Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Agustus 2011

Love for Love part 5


Meski berliku-liku
bukan berarti jalan ini tak berujung, kan ?

***

Matanya menyipit ketika cahaya-cahaya yang menyilaukan itu menyapu matanya tanpa ampun, ia mencoba menarik selimutnya kembali, berniat untuk terus melanjutkan tidurnya lagi. Namun entah siapa, yang sedang berdiri di ujung tempat tidurnya, juga menarik selimutnya ke arah yang berlawanan. Dan ketika matanya ia alihkan, terlihat siluet sosok manusia yang sedang berdiri menghadap ke arahnya.

“Aish, Donghae-ya, aku masih ingin tidur..”

“Mwo ?! Donghae-ya ?”

Love for Love part 4


Meski tak berpintu,
bukankah masih ada jendela untuk pulang.

***

Belum pernah langkahnya terasa seringan ini ketika ia harus kembali ke tempat dimana ia biasanya bersikap dingin dan tak peduli. Senyumnya bahkan terus terukir di bibir, benar-benar tidak seperti ia yang biasa.

“Kau darimana saja, hah ?! tidak pulang selama dua hari, ponselmu juga tidak aktif, kau ini kemana ?!!”

Salakan Leeteuk langsung menyapanya ketika tubuhnya bahkan baru saja ada di ambang pintu. Namun Eunhyuk malah tersenyum dan dengan santainya duduk di sofa, membuat semua mata yang ada disana menatapnya penuh keheranan.

Love for Love part 3


Tetaplah tinggal,
meski langkahku takkan pulang.

***               

Sinar matahari yang menyelinap masuk dan langsung membiaskan cahayanya dengan anggun, menjadi alarm alam yang terasa menyebalkan. Menyebalkan karena ia merasa tidak benar-benar tertidur sejak semalam, dan akhirnya ketika pagi ini kedua mata itu dapat terpejam dengan sempurna, seolah hanya dalam hitungan jari ia harus terbangun kembali.

Terasa ironis memang. Dia sedang berada di rumahnya sendiri sekarang, di kamarnya yang besar, di atas tempat tidur dengan kualitas terbaik, namun ia malah merasa janggal, tak ada nyamannya sama sekali.

Minggu, 17 Juli 2011

Love for Love part 2

Rumah akan selalu menjadi rumah,
bahkan untuk cinta sekalipun

***

“Hyung, apa yang kau lakukan disini ?”

Seseorang menepuk-nepuk pipinya, membuat ia mau tak mau membuka matanya. Tampak Taemin sedang menatapnya penuh tanya.

Eunhyuk mendudukkan dirinya, dan menyandar ke kaca yang ada dibelakangnya. “Semalam aku menumpang tidur disini”

Jumat, 15 Juli 2011

Love for Love part 1

Jika cinta tak dapat pulang,
akankah ia tetap tinggal ?

***

“Yak, tunggu aku, pabo !!”

Seorang anak laki-laki berlari dengan kencang, sambil sesekali menoleh ke belakang, dimana ada seorang anak perempuan, yang berkali-kali meneriakinya, dan juga ikut berlari bersamanya.

“Kau yang harus berlari lebih cepat !!” sahutnya, tak kalah keras.

“Aku mengenakan high-heels, bagaimana bisa aku berlari dengan cepat !!” anak perempuan itu berhenti, terengah-engah.

Kamis, 07 Juli 2011

End ? (3/3)

Siwon’s POV       

Rasa lelah yang menjalar ke seluruh tubuhku, membuat aku ingin cepat-cepat berbaring di ranjang dan memejamkan mata. Setelah menggantungkan jas yang baru saja ku kenakan, aku langsung duduk di ujung ranjang, merilekskan seluruh otot tubuhku.

Dulu, saat aku lelah seperti ini, maka sosoknyalah yang pertama akan ku cari. Meski hanya mendengar suaranya yang sedikit cempreng itu, aku sudah merasa puas. Ia selalu bisa mengangkat semua bebanku.

Dan kini, enam bulan ini, semua menghilang begitu saja. Perbedaan waktu yang mencolok antara Seoul dan London, membuatku tak dapat menelponnya sewaktu-waktu meski aku ingin, lagipula belum tentu juga ia akan mengangkat telponku.

Yeoja itu, ia senang sekali tidak mempedulikanku.

End ? (2/3)

Buku-buku tebal dengan sampul kaku tersebar di hadapanku, dengan sebuah stabillo berwarna merah muda aku menandai kalimat-kalimat yang ku perlukan dan kemudian menyalinnya di buku catatanku. Terkadang sesekali aku meraih kamus bahasa inggris yang terbuka lebar untuk mencari arti kata yang tak ku mengerti. Melelahkan namun aku menyukainya.

“Hoampp..” reflek aku langsung menoleh ke arah jam dinding ketika rasa kantuk itu berhasil meraih kesadaranku setelah tadi tertelan oleh timbunan teori dan tugas yang ku kerjakan. Sudah pukul satu pagi ternyata, waktu memang berjalan cepat. Aku meregangkan otot-otot tubuhku, duduk selama empat jam lebih memberi efek letih padaku.

Inilah rutinitasku tiga bulan belakangan ini. Sekolah di negeri orang dengan bahasa ibu yang berbeda jauh dari yang aku gunakan sehari-hari membuatku harus sedikit lebih bekerja keras untuk mengejar ketinggalan. 

End ? (1/3)

“Lepaskan aku, aku mohon..” aku meminta dengan sangat pada seorang namja yang sedang menahan pergelangan tanganku erat. Sambil berusaha menahan air mata yang siap mengalir kapanpun.

“Tolong, jangan pergi..tetaplah disini, bertahanlah sesaat lagi..” sahutnya pelan.

Mungkin ia benar, aku tahu, ia mencintaiku, dan akupun masih mencintainya. Tapi bukan hubungan seperti ini yang ingin ku jalani. Aku tidak bisa. Takdir mempermainkanku dan aku memilih untuk menyerah.

“Sepanjang kita bersama, aku tidak pernah meminta apapun, apapun..jadi kali ini, aku mohon lepaskan aku Siwon-ssi..” desahku ketika menyebutkan namanya. Terasa begitu menyakitkan. Dua tahun, dalam dua tahun aku terbiasa memanggilnya ‘oppa’ tidak seperti tadi.

Sabtu, 07 Mei 2011

Cinta Diam-Diam Part 1

Bias-bias matahari, menjadi alarm alam untuk membuka mata di pagi yang cerah ini. Begitu juga dengan gadis itu. Sejenak ia memandangi sekelilingnya. Semua nampak baru dan asing baginya. Namun sedetik kemudian ia tersadar, sejak semalam, hidupnya telah berubah.

Ia tidak lagi ada di kamarnya yang tidak terlalu besar, dengan cat ungu muda serta gambar kupu-kupu di dindingnya, tidak lagi mendapati burung kecil yang suka bertengger di jendela tepat di samping tempat tidurnya, dan tidak lagi tidur di ranjang ukuran satu orang yang penuh oleh boneka-bonekanya.

Kamar barunya ini, dua atau malah tiga kali lebih besar. Dindingnya berwarna gradasi pink tua dan pink muda. Walpaper bermotif bunga menambah kesan kelembutannya. Tempat tidurnya bisa menampung tiga orang sekaligus. Satu set peralatan elektronik lengkap tersedia disini. Ia bahkan mempunyai telepon sendiri di kamarnya. Dan kamar mandi pribadi beserta lemari-lemari pakaian besar yang mampu memuat beratus-ratus lembar baju tentunya.

Cinta Diam-Diam "Intro.."

15 agustus 2009.

Denting-denting nada kepiluan, masih terasa sebagai latar yang tepat di ruangan ini. Mengisi setiap sudut-sudutnya dengan air mata kehilangan. Berbaur dengan kesedihan, gadis itu, satu-satunya orang di tempat ini. 
Membenamkan wajahnya di bantal, membiarkan isakan tangisnya tersamar disana. Kalimat-kalimat penghiburan yang beberapa saat lalu menghampirinya, tidaklah begitu berarti.

Ia mencoba mengangkat wajahnya, menyeka sisa-sisa air di pipinya. Namun semua hanya sia-sia, ketika tidak sampai lima detik kemudian, rinai air itu kembali turun dari kedua matanya.

Jumat, 22 April 2011

Story in Our Life part 4

Alvin merapikan kemejanya sambil menatap pantulan dirinya dari kaca mobil. Entahlah tapi ia ingin terlihat lebih rapi dan beda hari ini. Di depan teras rumah, agni telah menunggunya.
“Gampang kan vin cari rumah gue ?” tanya agni basa-basi, sambil mempersilahkan alvin masuk ke dalam rumahnya.
“Gampang kok ag, lagian dulu gue sama cakka juga sering jalan-jalan lewat komplek sini”
“Oh, mau minum apa ?”
“Terserah elo aja deh, enggak dingin ya tapi” agni mengangguk kecil lalu pamit untuk mengambilkan alvin minum. Alvin menggaruk belakang tengkuknya meski tidak gatal, ia merasa suasana antara dia dan agni barusan terkesan terlalu formal dan tidak seperti biasanya.
“Temennya agni ya ?” seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam rumah itu bersama dengan seorang perempuan menghampiri alvin.
“Iya, ehm..alvin..” alvin menyodorkan tangannya.
“Gue rio kakaknya agni, ini dea cewek gue..” secara bergantian alvin menyalami rio dan dea.
“Hebat juga ya adek gue, baru beberapa minggu di jakarta langsung dapet kecengan gini” ujar rio enteng, alvin hanya dapat tersenyum tipis mendengarnya.
“Kak rio, apa-apaan sih lo !!” ternyata agni sudah berdiri disana sambil membawa baki.
“Elo curang ah, enggak pernah cerita-cerita lagi sama gue sekarang, eh malah langsung di bawa ke rumah” goda rio sambil mengerling ke arah alvin.
“Ahh, udah ah elo sama kak dea pergi aja sana, disini godain gue mulu” gerutu agni sambil mendorong-dorong rio agar pergi darisana. Sementara dea dan alvin, hanya bisa menikmati tontonan gratis kakak beradik ini.
“Yo, gimana kalo agni sama alvin ikut kita aja ? tiketnya kan ada empat” agni dan rio langsung kompak menoleh ke arah dea.
“Tiket apaan kak ?” tanya agni semangat.
“Ngajak dia ? ih enggak usah deh de” tolak rio sambil menunjuk agni.
“Apaan sih kak dea ?” tanya agni lagi, kali ini sambil mendekati dea.
“Gue sama rio dapet tiket nonton teater gitu ag dari temen, tiketnya ada empat, tadinya sih mau nonton bareng temen tapi dua temen gue itu enggak bisa” jelas dea.
“Gue mau kok kak, lo mau kan vin ?” alvin yang di tanya tiba-tiba, hanya bisa menganggukan kepalanya.
“Eh apa-apaan lo, gue bilang enggak ya enggak” timpal rio.
“Orang kak dea yang ngajak gue, kok elo yang sewot sih. Sekarang kak ?”
“Iya, ganti baju sana lo ag, masa alvinnya rapi gitu, elonya gini” sahut dea.
“Ah kak dea, jangan ketularan kak rio godain gue deh. Ya udahlah gue ganti baju dulu, bentar ya vin..” lagi-lagi alvin hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan agni.
“Eh gue ikut dong ag, mau ikut ngadem di kamar lo bentar” ujar dea sambil ngekorin agni, meninggalkan alvin dan rio berdua saja.
“Lo temennya sekolah agni ?” tanya rio.
“Iya kak, kebetulan dia temen sekelasnya sahabat gue”
“Enggak usah pake kak ah, gue juga cuma beda setahun kok sama lo. Elo suka sama dia ?”
“Eh, ehm gue.....”
“Yayaya, gue tahu kok lo suka sama agni, kelihatan banget” potong rio tidak sabaran menunggu jawaban alvin.
‘hah ? apanya yang kelihatan ? emang gue suka sama agni ?’ batin alvin heran.
“Emang apanya yang kelihatan yo ?”
“Cara lo ngelihatin adek gue tuh beda, ya sebagai cowok gue tahulah maksud pandangan lo itu. Walaupun sering berantem gini-gini gue juga perhatian kali sama dia”
“Sebenernya gue enggak tahu perasaan gue ke agni, tapi gue cukup nyaman ada di dekat dia”
“Yah, elo gimana sih, jangan ragu-ragu gitu dong jadi cowok. Mungkin karena elo sama agni baru kenal aja kali ya makanya gini, tapi feeling gue bilang elo berdua saling suka kok, tenang aja vin, gue dukung lo kok..” ujar rio sambil menepuk-nepuk pundak alvin. Alvin hanya tersenyum tipis.
Kini di benaknya ada tanda tanya besar, apa iya hatinya telah sampai pada tahap menyukai agni. Secepat itukah perasaan itu menyapanya dan tumbuh dalam hatinya. Bukankah masih dalam hitungan minggu ia mengenal agni, seistimewa itukah agni, hingga sebegitu mudahnya membuat ia untuk mengaguminya. Ada sesuatu yang mengisi ruang yang selama ini kosong dalam jiwanya, dan agnikah yang telah mengisi itu, apa ini semua tidak terlalu cepat.
“Vin..helooo..”
Alvin tersentak kaget, mendengar teriakan agni tepat di telinganya. “Hah, apaan ag ?”
“Haha, lo abis ngelamunin apaan sih ? gue panggilin juga dari tadi” alvin menatap agni sambil tersenyum.
“Rio mana ?” tanya alvin celingukan.
“Hmm, kayaknya elo beneran asik banget ya ngelamunnya, kak rio sama kak dea udah keluar duluan tadi. Udah ayo ah, keburu siang nanti..” reflek agni menarik tangan alvin agar beranjak dari kursinya, tapi sedetik kemudian, agni melepaskan tangan itu.
“Lebih enak gue yang ngegandeng tangan lo daripada elo yang ngegandeng tanga gue” bisik alvin sambil menggenggam jari jemari agni, dan menimbulkan semburat merah jambu di pipi agni.
***
Acara hari itu, tidak berhenti hanya dengan menonton teater. Mereka berempat memilih untuk makan siang bersama di sebuah restaurant. Agni dan alvin benar-benar harus tahan batin, melihat aksi rio yang terus saja bermesraan dengan dea.
“Kak, elo berdua kalo mau mesra-mesraan tahu tempat dong, masa di tempat umum kaya gini sih” protes agni saat entah untuk keberapa kalinya, kecupan rio mendarat di punggung tangan dea.
“Kenapa lo ? enggak suka, atau malah mau ? minta alvin dong” timpal rio asal.
“Haha sori deh ag, vin, kebiasaan jalan berdua..” sahut dea. Agni hanya dapat mendecakkan lidahnya, kemudian ia kembali fokus pada makanannya.
Di sebelah kanan agni, alvin duduk sambil diam-diam mencuri pandang ke agni. Sejak menonton teater tadi, alvin sering juga memergoki aksi rio terhadap dea, sedikit banyak itu mempengaruhinya juga. Apalagi semakin ia melihat ke arah agni, semakin muncul juga keinginannya untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan rio.
“Psstt..vin lo usaha dong sama agni..” ujar rio sambil berbisik-bisik.
“Apaan ?” tanya alvin tidak mengerti.
“Usaha sama agni..” ulang rio sekali lagi.
“Lo berdua ngapain sih bisik-bisik ?” tanya agni curiga.
“Siapa yang bisik-bisik ? sok tahu lo !” tampik rio. “Eh de, aku mau ngasih kamu sesuatu” lanjut rio lagi sambil mengalihkan tatapannya ke dea.
“Apa ?”
“Bentar ya..” rio berdiri dari kursinya, sebelum beranjak ia menyempatkan diri dulu untuk mengecup ubun-ubun dea dan sedikit membelai rambutnya. Rio melangkah ke arah panggung kecil yang ada, berbicara sesaat dengan pegawai restaurant tersebut.
“Lagu ini spesial buat dea christa amanda, love you..”
I think of you
Whatever I did or do
To be with you
Whatever it takes i’ll do
Cause you my love
You’re all my heart desire
You’ve lightened up my life
Forever i’m alive
Rio berjalan menghampiri dea, lalu meraih tangan dea dan mengajaknya ke tengah panggung. Membuat pasangan lain yang ada di ruangan itu, iri dibuatnya.
Since i found you
My world seems so brand new
You’ve showed me the love i never knew
You”re present has sparks my whole life trough
Diam-diam, agni menatap alvin sekilas, entah kenapa ada keinginan liar dalam hatinya, seandainya alvin melakukan itu padanya.
Since i found you
My life begins a new
Now who need to dream when there is you
For all of my dreams come true
Since i found you...
Your love shines bright trough all corners of my hearth
Baby you are my dearest part
I’d give you all i have
My heart my soul my life
My destiny is you
Forever true
I’m so in love with you
Since i found you
My world seems so brand new
You’ve showed me the love i never knew
You”re present has sparks my whole life trough
Since i found you
My life begins a new
Now who need to dream when there is you
For all of my dreams come true
My heart forever true
In love with you...
Di akhir lagu, rio mengalungkan tangannya di pundak dea lantas mencium kening dea.
“Love you dea..”
“Love you rio..”
“Cie...prok..prok..prok..” applause meriah di berikan oleh pengunjung lain untuk dua sejoli yang sedang kasamaran itu.
“Kakak gue keren juga yaa..” komen agni setelah melihat penampilan rio. Alvin hanya menganggukan kepalanya, sesungguhnya ia masih tidak mengerti apa maksud bisikan rio tadi dan kelakuan rio setelahnya.
“Tadi gue keren kan ?” tanya rio langsung sekembalinya mereka ke tempat duduk.
“Untuk kali ini terpaksa deh gue harus bilang elo keren kak”
“Yang ikhlas dong lo muji guenya..”
“Haha iya deh, eh kak dea, emang kak rio sering kaya gini ?”
“Kalo romantis, kaya ngasih bunga tiba-tiba sih sering, tapi kalo yang sampai nyanyi kaya gini baru sekarang, gue aja rasanya masih speechless..”
“Kapan ya ada cowok yang gituin gue ?” desah agni pelan, tapi rio yang mendengar hal itu, langsung menyenggol siku alvin di sebelahnya.
“Apaan ?” tanya alvin polos, membuat rio sedikit gemas dan menepuk keningnya sendiri.
“Gue sama dea cabut duluan ya, kita masih ada acara lain dari sini” pamit rio akhirnya.
“Lho kok gue sama alvin di tinggal berduaan gini ?”
“Enggak apa-apa dong ag, biar bisa tambah deket” goda dea.
“Setuju gue, vin gue balik ya, jagain nih adek gue” rio menepuk-nepuk pundak alvin “Lakuin apa yang gue lakuin ke dea kalo emang lo suka sama agni” ujar rio pelan, sehingga hanya dia dan alvin yang mendengarnya.
“Duluan ya..” ucap dea dan rio barengan.
“Ag mau ikut gue ke suatu tempat enggak ?” tawar alvin.
“Kemana ?”
“Kalo lo mau ikut gue, entar juga elo tahu tempatnya, enggak bakal nyesel deh”
“Ya udah deh ayo..” sahut agni mengiyakan.
***
Ternyata alvin mengajak agni ke sebuah pantai. Belum pernah sekalipun agni menemui pantai seindah ini, dengan pasir putih yang lembut, angin sejuk yang berhembus serta ketenangan yang mampu menentramkan jiwa.
“Ini keren banget vin..”
“Lo suka kan sama tempat ini ?” agni menganggukan kepalanya kuat-kuat, ia masih merasa takjub dengan pemandangan surga di hadapannya.
“Duduk sini deh..” alvin menarik tangan agni lembut. Mereka duduk di pinggir pantai, di bawah payungan daun kelapa yang melambai-lambai.
“Kok elo bisa nemuin tempat kaya gini sih ? eh bentar ini masih jakarta kan ?” tanya agni polos, karena rasanya ia seperti berada di tempat yang jauh dari ibu kota yang penat itu.
“Gue juga enggak sengaja kok nemuin pantai ini, cuma sedikit orang yang tahu tentang pantai ini, makanya masih tenang, masih nyaman..”
“Pasti lo suka kesini sama cakka sama ify” tebak agni yakin.
“Iyalah, dulu kita sering banget kesini bertiga, mereka udah kaya keluarga buat gue” agni tersenyum tipis mendengarnya.
“Beruntung ya jadi lo, bisa nemuin sahabat kaya mereka berdua”
“Bukan nemuin tapi di takdirin, mungkin kalo bukan mereka yang jadi sahabat gue, enggak tahu deh apa yang terjadi sama gue sekarang..” mendengar perkataan alvin, agni jadi teringat akan rasa penasarannya akan sosok di sampingnya ini.
“Vin, kenapa elo main basket lagi ? lo sendiri yang bilang waktu itu, elo enggak ngerti basket”
“Karena ada yang bilang ke gue, kalopun basket bikin gue mati, gue enggak akan berhenti main basket karena gue cinta basket” agni tersipu mengetahui kata-katanya lah yang membuat alvin mau bermain basket lagi.
“Emang main basket bisa bikin elo mati beneran ?”
“Hahaha..” alvin hanya tertawa sambil mengacak-acak rambut agni.
“Ih gue nanya serius juga..” sungut agni sebal.
“Kadang kita enggak perlu ngupas sesuatu terlalu dalam, karena saat kita nemuin isinya enggak sesuai sama keinginan kita, yang kita dapetin cuma rasa kecewa dan waktu yang terbuang sia-sia..” agni mengalihkan pandangannya ke alvin, menatap alvin penuh tanya.
“Maksudnya ?”
“Enggak semua pertanyaan ada jawabannya dan enggak semua jawaban berasal dari pertanyaan”
“Aduh alvin elo ngomong apa sih ? gue enggak ngerti deh, serius” sahut agni sambil mengacungkan jarinya membentuk huruf V. Alvin terkekeh melihatnya, ia mencondongkan wajahnya lebih dekat ke arah agni.  
“Lo lebih manis kalo kaya gini deh ag..” alvin merapikan sedikit poni agni dan menyampirkan beberapa helai rambut ke belakang telinga agni, membuat jantung agni berdetak berjuta kali lebih kencang.
“Makasih..” ujar agni pelan, alvin menatap matanya lalu tersenyum.
“Lo pernah mencintai seseorang ?” tanya alvin tiba-tiba.
“Enggak tahu..”
“Kok enggak tahu sih ?”
“Gue enggak tahu definisi mencintai seseorang itu sejauh apa, gue pernah ngerasa suka sama temen sekelas gue di bandung, enggak ada satupun hari gue lewatin tanpa ngelihatin dia, kasarnya dia lagi keringetan aja tetep kelihatan menarik di mata gue, tapi cuma gara-gara gue ngelihat dia ngerokok sepulang sekolah, rasa itu lenyap gitu aja, enggal berbekas sama sekali, berarti gue enggak pernah benar-benar mencintai temen gue itu kan ?” jelas agni panjang lebar.
“Jadi sampai lo segede ini, belum pernah sekalipun lo pacaran ?” tanya alvin lagi.
“Iya, emang kenapa ?”
“Kalo gitu kita sama..”
“Serius ?” tanya agni seolah tidak percaya.
“Emang muka gue kelihatan bercanda ?” tanya alvin balik.
“Enggak sih, cuma enggak nyangka aja, gue ngelihat kak rio pacaran semenjak dia kelas satu smp kali”
“Pantes..”
“Pantes apa ?”
“Ahli banget kayanya dia kalo soal bikin cewek meleleh”
“Hahaha..” agni tertawa sambil mengangguk-anggukan kepalanya, tampak begitu manis di mata alvin. Benarkah yang rio bilang bahwa ia mencintai agni.
“Kalo ada cowok yang mencintai lo gimana ag ?” tanya alvin di sela-sela tawa agni.
“Ya enggak gimana-gimanalah..” jawab agni enteng.
“Kalo dia sampai bilang sayang ke elo dan minta lo jadi ceweknya, enggak gimana-gimana juga ?”
“Oh kalo itu sih baru gimana-gimana, hehe, tergantung lah vin, kalo misalnya gue nyaman sama cowok itu, dan gue punya perasaan yang sama, ya mungkin gue bakal nerima dia”
“Gue punya cerita, lo mau dengerin enggak ag ?” agni hanya mengangguk, sesungguhnya ia sedikit bingung dengan alvin yang sedari tadi seperti sedang menginterogasinya.
“Ada seseorang yang kecewa sama hidup yang dia jalanin, buat dia hidup itu cuma perputaran waktu dari pagi ke malam dan seterusnya yang ujung-ujungnya bakal nganterin dia sama satu hal yang menurut dia paling pasti, yaitu kematian. Sampai suatu hari, dia nemuin sebuah cahaya, cahaya yang bikin hidupnya sedikit berwarna, cahaya terang yang entah kenapa dalam waktu sekejap bisa merubah definisinya tentang hidup jadi berubah. Kalo lo jadi orang itu, apa yang bakal lo lakuin dengan cahaya itu ?”
“Gue akan menyimpan cahaya itu, berusaha memiliki dan menjaganya, karena cahaya itu secara langsung ataupun enggak, udah bikin gue sadar sama hidup yang lagi gue jalanin” jawab agni mantap.
“Sekalipun ujung-ujungnya elo bakal ninggalin cahaya itu di kemudian hari ?”
“Seenggaknya gue berani buat maju dan berusaha enggak nyia-nyiain apa yang Tuhan kasih buat gue, masalah akhir apa yang akan terjadi sama gue, gue enggak mau begitu peduli. Gue pernah baca novel, disitu di ceritain tentang seorang cowok yang punya cewek penyakitan gitu deh, pas ceweknya lagi kritis, si cowok itu bilang, kalo dia enggak peduli sama apapun yang bakal terjadi nanti, yang penting dia akan selalu berusaha ada buat ceweknya sampai kematian itu bener-bener dateng dan misahin mereka, enggak tahu kenapa, tapi gue suka aja sama kata-kata itu”
“Thanks ya..” ujar alvin sambil tersenyum.
“Buat ?”
“Jawaban lo”
“Emang itu penting ya ?”
“Cuma pengen tahu aja kok..”
“Gue boleh gantian nanya sama lo, wajib di jawab jujur tapi”
“Kalo gue punya jawabannya ya gue jawab”
“Pas pertama kali kita ketemu di ruang musik, waktu itu lo lagi megang gitar tapi enggak mainin gitar sama sekali, padahal lo bisa kan main gitar ?”
“Gue enggak punya jawaban buat pertanyaan lo itu” ujar alvin datar, ia berdiri lalu berjalan meinggalkan agni. Agni tidak mau menyerah, ia menyusul alvin dan mengikutinya.
“Ada apa lo sama gitar ?” alvin tidak menjawab, ia terus saja berjalan.
“Di kamar ify, gue ngelihat piala lo, lo best guitarist kan ? kata iel juga elo jago main gitar” lanjut agni lagi, mencoba tidak peduli dengan sikap tidak acuh alvin.
“Apa lo mau bilang main gitar juga bisa bikin lo mati ? sama kaya basket !” alvin berhenti, begitupun agni.
“Kenapa elo harus seribet ini sih cuma buat tahu tentang gue ? anggep aja lo enggak pernah tahu kalo gue bisa main gitar, anggep aja lo tahunya gue enggak bisa main gitar sama sekali” ujar alvin sambil berbalik menghadap agni.
“Gue mau lihat elo main gitar sekali aja, setelah itu gue akan pura-pura enggak tahu kalo lo bisa main gitar” sahut agni sambil menatap alvin dengan pandangan tajam sekaligus meminta. Ia tersenyum tipis, lalu berjalan menjauh dari alvin.
***
Ify dan cakka duduk berdua di gazebo rumah cakka yang teduh. Dengan tangannya, cakka mengelus-elus rambut ify yang sedang bersender di badannya.
“Bener kan apa yang aku bilang, agni orang yang tepat buat alvin”
“Tapi kalo agni tahu apa yang terjadi sama alvin, apa dia bakal bertahan juga, sama kaya kita ?”
“Kok kamu ngomongnya gitu sih kka, kesannya alvin enggak pantes buat di cintai”
“Bukan gitu maksud aku, aku cuma enggak mau lihat alvin kecewa lagi..” ujar cakka lirih, seolah kekecewaan yang ia bilang itu ia rasakan sendiri.
“Kita harus optimis kka, terserah apa yang mau orang bilang. Lagian beberapa hari ini, hawanya alvin beda, apalagi kemarin pas dia main basket, aura basketnya masih kelihatan, bukti kalo dia sendiri enggak pernah bener-bener ngebuang semua itu kan”
“Tapi kamu masih inget kan apa yang...”
“Ssstt, apapun itu, aku enggak mau peduli. Ayolah kka, kasih agni sedikit kesempatan, kali aja dia beneran bisa kembaliin alvin kita yang dulu” ify meneggakkan duduknya, sambil menggenggam tangan cakka.
“Kadang aku ngerasa, alvin yang enggak mau kembali lagi kaya dulu fy..”
“Itukan cuma perasaan kamu, nyatanya kemarin kamu lihat sendiri kan, dia berani, berani buat main basket lagi, berani buat ngadepin basket lagi”
“Tapi fy...”
“Percaya kka, semua bakal baik-baik aja” potong ify sambil mendekapkan badannya ke tubuh cakka, berusaha menenangkan cakka, atau dirinya sendiri mungkin.
***
Suara gemuruh ombak yang saling bersahutan, menemani alvin. Dia duduk di atas tebing kecil, sendirian. Gitar dan basket, dua hal yang dulu selalu ada dalam hidupnya. Hingga kini mungkin. Dua hal yang dulu menjadi kebanggaannya, ciri khasnya, juga cita-citanya. Dua hal yang dulu selalu menemaninya. Dua hal yang alvin lakukan dengan cinta. Tapi juga dua hal yang alvin hancurkan dengan tangannya sendiri. 
Seandainya agni tahu, betapa ia rindu akan dua hal tersebut. Yang di jauhinya begitu saja, yang dicampakan dan ia coba lupakan seolah dua hal itu adalah sesuatu yang menjijikan baginya. Tentu saja ada alasan untuk itu semua. Alasan yang membuatnya menjadi seperti ini, alasan yang menuntunnya berjalan membelakangi dua hal itu.
“Vin..” alvin menoleh, terlihat agni sedang berdiri di belakangnya.
“Maaf, kalo tadi gue maksa lo dan terlalu keras sama lo” ada nada menyesal di kalimat itu. Agni duduk di sampingnya, mereka diam sejenak untuk beberapa saat yang terasa membosankan.
“Lo enggak mau maafin gue ?” tanya agni sambil menengok ke arah alvin. alvin menghela napasnya sebentar, ia melirik jam tangannya.
“Gue tutup mata lo bentar ya..” ujar alvin lantas menutup kedua mata agni dengan tangannya.
“Satu..dua..tiga..” tepat dihitungan ketiga, alvin melepaskan tangannya. Mulut agni nyaris ternganga, melihat sketsa alam yang ada di hadapannya, tampak sang surya yang begitu mewah dan agung, perlahan demi perlahan, terbenam di ujung garis pantai, menyisakan aroma keindahan duniawi yang terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.
“Makasih vin, hari ini lo bener-bener bikin gue seneng banget”
“Gue yang harusnya bilang makasih, agni..” tanpa aba-aba, alvin mengecup kening agni, membuat pipi agni bersemu merah.
“Ini bukan tindakan spontan, ini tindakan dari hati gue secara tulus buat lo” bisik alvin lembut., ia menggenggam jari jemari agni.
“Pulang yuk, entar kemaleman..” ajak alvin sambil menarik agni, agni hanya bisa pasrah, rasanya tubuhnya terlalu penuh oleh senyawa bahagia, sehingga ia tidak dapat melakukan apapun kecuali tersenyum.
“Arghh..” tiba-tiba alvin mengerang, ia melepaskan tangan agni begitu saja, kemudian memegangi tangannya sendiri.
“Alvin lo kenapa ?” tanya agni bingung. Alvin tidak menjawab, tubuhnya langsung merosot, cairan darah kental mengalir dari kedua lubang hidungnya.
“Alvin..” agni mengguncang-guncang tubuh alvin, yang terkulai lemas, matanya tampak tidak fokus, dan tangannya terasa dingin.
“Alvin..” panggil agni terus menerus, ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, dua butiran hangat menetes di pipinya.
“Ca..kka..” desah alvin pelan, tepat sebelum kedua matanya tertutup.

Story in Our Life part 5 "Ending.."

Di sudut ruangan yang gelap, agni meringkuk sendiri, memegang kedua lututnya, berusaha menghilangkan rasa gemetar yang menghantuinya. Ingin rasanya ia menangis, meraung dan berteriak sekuat-kuatnya, karena mungkin itu akan lebih membuat hatinya lega, daripada ia harus seperti ini, menahan rasa sesak di dadanya.
“Agni..” ify langsung menghambur ke arahnya dan memeluknya erat.
“Alvin fy..alvin..” desah agni bergetar. Ify mengangguk-angguk, sambil mengelus-elus punggung agni, berusaha menenangkannya.
“Salah gue enggak ngasih tahu ke elo dari awal” ujar ify pelan.
“Ceritain ke gue semua tentang alvin fy..” pinta agni memelas.
“Nanti, kalo keadaan emosi lo udah lebih baik dari ini” agni melepaskan dirinya dari pelukan ify, ia menghapus sisa-sisa air yang masih menempel di pipinya, merapikan poninya yang tampak acak-acakan, lalu tersenyum.
“Gue udah siap denger semuanya..”
“Ayo ikut gue..” ajak ify. Agni pasrah, ia mengikuti ify. Mereka berdua menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang tampak sepi di malam hari. Ify memasuki sebuah cafetaria kecil di samping rumah sakit, ia tersenyum ramah pada penjaga cafetaria tersebut, tampak begitu akrab.
“Coklat panas neng ?” tawar bapak tua penjaga cafetaria itu.
“Iya pak, dua ya” sahut ify sambil menarik kursi dan menyuruh agni untuk duduk.
“Sejak setahun lalu, cafetaria ini jadi satu-satunya tempat yang bersahabat buat gue di rumah sakit ini” agni memberikan tatapan penuh tanya atas perkataan ify tadi.
“Lo mau gue mulai cerita ini dari mana ?” tapi bukannya menjawab tatapan itu, ify malah memberi agni pertanyaan.
“Terserah elo, yang penting lo ceritain semuanya ke gue” ify tersenyum tipis melihat agni yang tampak pasrah.
“Lo pernah denger nama Marisa ananta ?” agni merasa familiar dengan nama itu, ia memejamkan matanya sejenak, mencoba mengingat dimana ia pernah mendengar nama tersebut.
“Bukannya itu penyanyi lama ya ? nyokap gue koleksi beberapa kasetnya dia” jawab agni akhirnya.
“Iya, dia penyanyi lama, dan dia nyokapnya alvin” agni membelalakan matanya mengetahui hal itu, tidak pernah ada dipikirannya paling liar sekalipun, tentang ini.
“Neng ify, ini coklat panasnya dua..” sela bapak tua tadi, sambil meletakkan dua gelas coklat panas dengan asap yang masih mengepul-ngepul diatasnya.
“Makasih ya pak..” sahut ify ramah, sementara agni masih berusaha mencerna kata-kata ify barusan.
“Alvin anaknya marisa ananta ? setahu gue marisa ananta enggak pernah nikah, bukannya dia tinggal di luar negeri sekarang ?”
“Publik emang tahunya gitu, karena emang marisa ananta enggak pernah ngakuin keberadaannya alvin. Anak dari hasil pernikahan sirinya sama seorang produser..”
“Lo bercanda ya fy..” timpal agni polos.
“Ekspresi yang sama juga gue tunjukkin saat gue tahu hal ini untuk pertama kalinya ag, tapi emang ini kenyataannya. Apa lo pernah ke rumah alvin ? disana enggak ada satupun foto keluarga yang terpajang, karena sampai sekarang, ini semua masih rahasia”
“Terus apa hubungannya semua ini sama keadaan alvin yang sekarang ?” tanya agni yang tidak melihat benang merah diantara kenyataan yang baru ia tahu dan keadaan yang ia lihat.
“Kata cakka, dari dulu alvin enggak pernah ngeluh. Dia berusaha jalanin hidupnya kaya biasa aja, walaupun hidupnya di penuhin sama kebohongan. Alvin ngalihin semua rasa kesepian itu, sama basket dan gitar. Dua hal yang enggak pernah bisa di pisahin dari alvin..” ify jeda sejenak, untuk menyeruput coklat panasnya.
“Enggak ada satupun hari alvin lewatkan tanpa bermain basket dan gitar. Buat alvin basket sama gitar segala-galanya, dia selalu bersemangat setiap nyeritain mimpinya, mimpi kalo suatu hari nanti dia bakal main di nba, mimpi kalo suatu hari nanti dia bakal jadi gitaris terhebat yang ada di indonesia” lanjut ify lagi.
“Gue sama cakka cuma bisa ikut ngedoain itu, lagian kita yakin kok dia bisa. Seiring waktu, semakin kita tambah besar, alvin mulai ngerasa kalo hidupnya dia emang enggak seadil kaya orang kebanyakan. Dia tetap kelihatan optimis, menggebu-gebu, semangat tapi gue sama cakka enggak pernah tahu, kalo itu semua cuma topeng..” agni lebih memilih diam mendengar cerita ify, ia ingin mendengarkannya sampai tuntas malam ini juga.
“Tanggal 3 agustus setahun lalu, tepat saat hari ulang tahunnya dia. Kita bertiga lagi manggung di kafe punya tante gue, sekaligus buat ngerayain ulang tahunnya dia. Semua berjalan lancar awalnya, sampai tiba-tiba di tengah lagu, alvin yang saat itu jadi gitaris sekaligus vokalis, jatuh dan pingsan. Kita semua langsung bawa alvin ke rumah sakit, dokter juga langsung ngadain pengecekan lengkap ke alvin, karena enggak ada satupun tanda-tanda kalo kondisi alvin lagi enggak sehat, dan pas hasil lab itu keluar, hasilnya benar-benar jauh dari bayangan kita semua..” ify menengadahkan wajahnya, mencoba menahan butir air mata yang siap menetes kapan saja.
“Tanpa sepengetahuan siapapun, sejak kelas tiga smp, alvin sering mengkonsumsi semacam obat penenang, bukan narkoba atau sejenisnya, ini obat penenang yang dokter anjurkan untuk orang-orang dengan kondisi jiwa yang labil, dan sesungguhnya alvin bukan bagian dari orang-orang itu. Entahlah darimana asalnya dia bisa dapet obat itu, yang jelas, karena kurangnya pengetahuan, obat yang alvin konsumsi dengan rutin itu, menyerang saraf-saraf ditubuhnya..”
Agni memegang erat gelasnya, agar kehangatan yang ada mengalir di tangannya. Rasanya ia tidak sanggup bila harus mendengar cerita ify lebih jauh lagi, tapi agni tidak akan mundur, ia telah bertekad untuk tahu semuanya.
“Saat itu juga, dokter langsung memvonis kalo sistem saraf yang dapat bekerja di dalam tubuh alvin hanya tidak lebih dari lima puluh persen dan bertambahnya waktu, kemampuan itu akan terus menurun hingga bisa menyebabkan kelumpuhan total dan..” ify menggantung kata-katanya, ia menggiggit bagian bawah bibirnya, ada ketakutan sendiri baginya untuk melnjutkan kalimat tadi.
“Kematian ?” tebak agni pelan, ify mengangguk kecil, meski hatinya terasa miris.
“Alvin kecewa sama hidupnya, tepatnya sama dirinya sendiri, dia merasa udah ngancurin semuanya dengan kelakuan bodohnya. Sejak saat itu, alvin berubah, dia lebih banyak diam, dia menjauhi basket dan gitar, bahkan bertingkah seolah-olah dia enggak pernah mengenal dua hal tersebut”
“Kondisi jiwanya jadi enggak terkontrol, di awal-awal, alvin sering banget ngelakuin hal-hal gila untuk menyerah sama hidupnya, dia benar-benar udah enggak punya semangat hidup lagi,  itu sebabnya gue sama cakka enggak pernah sekalipun biarin dia sendiri. Sebisa mungkin kita berdua selalu nemenin dia, kapanpun dan dimanapun” puzzle yang tadinya berserakan di otak agni, perlahan demi perlahan, mulai tersusun membentuk sebuah kejelasan.
“Gimana sama orang tuanya ? apa mereka enggak tahu ?”
“Hampir setiap malam, alvin selalu berharap mamanya nelpon dia, sekedar buat nanyain gimana keadaannya dia. Tapi kayanya sampai hari ini, keinginan itu enggak pernah betul-betul terwujud”
“Sekarang separah apa kondisi dia ?” tanya agni sambil berharap dalam hati jawaban baiklah yang akan di dengarnya.
“Inget kan waktu gue enggak masuk, saat itu, gue sama cakka lagi nungguin alvin disini. Dan dokter bilang, salah satu sarafnya ada yang udah mulai enggak berfungsi normal, menyebabkan sarafnya yang lain harus berbagi tugas, dan hal ini tentu aja bakal mempercepat proses kelumpuhan alvin”
“Enggak mungkin..” sahut agni lirih, seolah dengan ia berkata demikian, semuanya tidak akan benar-benar terjadi.
“Alvin yang mempercepat itu sendiri” sahut cakka yang tiba-tiba datang dan duduk disamping ify.
“Setiap gue ke kamar alvin, yang gue lihat cuma satu, sampai gue apal, alvin enggak pernah minum obatnya, botol-botol obat yang ada enggak pernah seinci pun letaknya bergeser dari tempatnya..” lanjut cakka lagi. Ify meraih tangan cakka untuk ia genggam. Cakka memang terlihat sedikit berantakan saat ini.
Seandainya tidak ada rasa takut yang masuk dan memenuhi seluruh sudut tubuh agni, mungkin ia sendiri akan melontarkan sejuta kata penghiburan untuk dua orang di hadapannya yang memang paling terpukul dengan semua ini. Tapi kenyataan yang ada adalah, dirinya sendiri saat ini, butuh untuk di peluk sesaat, dikuatkan sejenak, di yakinkan bahwa alvin baik-baik saja, karena sejak beberapa saat yang lalu, agni sadar, ia ingin melihat senyum alvin lagi, khusus untuknya.
***
Setelah beberapa kali menarik napas dan meyakinkan hatinya, agni mulai memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan di hadapannya tersebut.
“Ada sebuah ruangan di rumah alvin, disana tempat dia nyimpen semua benda yang berhubungan dengan basket dan gitar, elo bisa nemuin beberapa barang, karena yang sebagian lagi udah gue sama cakka ungsiin ke rumah kita sebelum di hancurin sama alvin..”
Ruangan itu tampak tidak terlalu besar, dan seperti yang di katakan ify, isinya di dominasi oleh benda-benda yang berhubungan dengan gitar dan basket. Ada dua buah gitar klasik dan satu gitar elektrik yang terpajang disana. Ada juga rak, yang memperlihatkan trophy-trophy kejuaran yang alvin dapatkan. Beberapa bola basket, serta poster-poster pemain-pemain basket juga tersebar di setiap sudut ruangan itu.
“Drrtt..drrrtt...drrrrtt..”
“Halo fy, kenapa ?”
“Ag, lo ke rumah sakit sekarang ya”
“Kenapa ?’
“Udah cepetan lo kesini, oke..”
Klik. Ify langsung mematikan telponnya tanpa memberi agni kesempatan lagi untuk bertanya lebih jauh. Perasaan yang tidak-tidak langsung menghantui agni, dengan segera agni berlari menuju mobilnya dan pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, agni kembali berlari menuju kamar alvin. Tidak mempedulikan, tatapan orang-orang untuknya. Ia ingin segera tahu apa yang terjadi pada alvin. Di ujung koridor, agni bertemu dengan ify dan cakka yang juga tampak berlari dengan wajah panik.
“Alvin kenapa ?” tanya agni langsung.
“Alvin enggak ada di kamarnya ag, gue sama cakka udah nyari dia hampir ke seluruh rumah sakit ini” jelas ify singkat.
“Emang dia udah sadar ? kapan ?”
“Gue juga enggak tahu, ya udah ayo sekarang kita cari aja dia” ajak cakka.
Agni baru mau ikut mencari lagi ketika seorang anak perempuan kecil berjalan menghampirinya. “ Kakak, kak agni ya ?”
“Iya, kenapa ?” tanya agni sambil berlutut agar setara dengan anak kecil tersebut.
“Ini ada surat buat kakak dari kakak ganteng” anak perempuan itu menyodorkan sebuah kertas kecil yang langsung di terima agni.
“Kakak ganteng ?” dengan perasaan bingung dan kalut karena mikirin alvin, agni membaca isi surat tersebut.
Ag, ajakin cakka sama ify ke atap rumah sakit dong, gue tunggu yaa..
-alvin-
“Kamu da...lho anak kecil tadi kemana ?” agni celingukan karena anak kecil yang tadi berdiri di hadapannya telah pergi begitu saja. Sambil menggenggam kertas tersebut, agni menyusul cakka dan ify yang bilang ingin mencari di bagian belakang rumah sakit.
Setelah menemui cakka dan ify, mereka bertigapun bergegas menuju bagian atap rumah sakit. Berbagai pikiran buruk sudah terlintas di pikiran agni, terbayang olehnya adegan-adegan di sinetron-sinetron yang sering tidak sengaja ia tonton saat menemani mamanya. Dalam hatinya, agni tidak berhenti melantunkan doa-doa untuk menenangkan pikirannya.
Kosong. Itulah yang mereka temukan sesampainya mereka diatas sana. Tidak ada siapapun. Tidak ada alvin.
“Alvin !!” panggil cakka keras.
“Ag, beneran kan dia nulis disini ?” tanya ify.
“Iya, ini tulisannya dia kan ?” tanya agni balik sambil menyodorkan kertas yang sejak tadi ia pegang.
“Tapi mana alvinnya ? alvin !!” teriak ify juga, sambil memandang berkeliling, kali-kali menemukan sosok itu.
“Alvin !!” agni juga tidak mau kalah.
“Gue disini..” mereka bertiga menoleh ke arah suara, terlihat alvin masih dalam balutan pakaian rumah sakit, tersenyum ke arah mereka.
“Lo kemana aja sih ? lo mau bikin gue mati khawatir sama lo !” ujar cakka sambil menghampiri alvin dan meninju pundaknya pelan. Terlihat sekali rasa lega terpancar di wajahnya.
“Hahaha..” alvin hanya tertawa melihat itu, tidak sadar bahwa ia baru saja menimbulkan kepanikan.
“Kalo mau bercanda jangan kelewatan kenapa sih ? jangan bikin gue parno..” timpal ify, matanya nampak berkaca-kaca. Selama ini ia berusaha tegar untuk cakka, tapi kali ini air mata itu turun juga.
“Lho kok nangis sih fy ? ya..maaf deh maaf..” alvin memeluk ify sambil mengusap-usap kepalanya. Sementara agni masih diam di tempatnya, ia melihat alvin dalam-dalam, seandainya boleh, rasanya ia ingin berlari menerjang tubuh itu, memeluknya erat, melepaskan semua rasa takutnya selama hampir 24 jam belakangan ini.
“Vin, udahan meluk cewek guenya, ada cewek lain yang minta elo peluk tuh” celetuk cakka sambil menunjuk-nunjuk agni. Alvin tersenyum melihat agni yang sedang menatap ke arahnya, ia mendekati agni.
“Maaf kalo kemarin bikin lo takut atau kaget ngelihat gue tiba-tiba kaya gitu, sekarang apa lo masih penasaran sama gue, basket dan gitar ?” agni hanya menggeleng, ia takut kalo ia bicara, malah air matanya yang keluar. Ia tidak ingin tampak konyol di depan alvin, ia tahu kapasitasnya yang bukan siapa-siapa untuk alvin.
“Kka, kita main basket yuk..” ajak alvin tiba-tiba sambil mengambil bola yang tampaknya sudah ia siapkan sebelumnya.
“Basket ? tapi elo..”
“Udah ayo, lo enggak kangen apa sparing sama gue ?” alvin melemparkan bola basketnya ke arah cakka. Cakka menoleh ke ify ragu-ragu, tapi ify membalas itu dengan senyuman kecil sambil mengangguk.
Sejurus kemudian, mereka berdua telah tampak asik berebut bola satu sama lain, tanpa ring, tanpa lawan lain, tanpa lapangan yang memadai. Hanya di atas atap rumah sakit, di saksikan oleh ify dan agni, setelah satu tahun, dua sahabat itu kembali memainkan basket bersama, kembali tertawa untuk lemparan-lemparan yang mereka lakukan, kembali bersemangat untuk permainan yang sederhana tapi mungkin akan berarti banyak di kemudian banyak hari.
“Fy, lo udah enggak nangis lagi kan ?” tanya alvin di sela-sela mendrible bolanya.
“Enggak, tapi tetep aja gue masih kesel sama lo” sahut ify sambil menggelembungkan pipinya.
“Ada coklat panas tuh, udah enggak panas sih, tapi spesial buat elo” ujar alvin tersenyum dan menunjuk sebuah gelas yang di letakkan di atas tembok kecil. Ify langsung mengambil gelas tersebut, mencium aromanya yang khas, sudah lama alvin tidak membuatkannya coklat panas seperti ini.
“Mau enggak ag ?” tawar ify sambil duduk di samping agni.
“Enggak..” jawab agni singkat dengan mata tidak terlepas dari alvin.
“Dia keren kan kalo lagi main basket”
“Fy..”
“Ya, kenapa ?”
“Dia enggak kaya orang sakit ya, semangat banget” ify tersenyum tipis.
“Emang kaya gitu ag, tapi sekalinya kondisi saraf-saraf itu melemah, buat ngangkat jari telunjuknya aja alvin enggak akan bisa” jelas ify. “Vin, kka udahan deh mainnya, elo masih harus banyak istirahat vin..” lanjut ify kemudian memperingatkan alvin dan cakka.
“Bentar lagi dong fy..” pinta alvin tampak tidak rela.
“Ify bener sob, cukup udah elo mainnya, besok-besok masih bisa kan, kapanpun elo mau main, gue siap” sambung cakka, sambil mengambil bola dari tangan alvin. Mereka berdua menghampiri ify dan agni.
“Ag, kok elo ngelihatin guenya gitu banget sih” ujar alvin.
“Enggak apa-apa kok” jawab agni singkat. Sesungguhnya ia merasa ada yang beda dengan alvin, kelakuan alvin yang tampak begitu bersemangat hari ini, malah membuat agni takut. Takut ini adalah semangat alvin yang terakhir, takut ini adalah semacam salam perpisahan secara tidak langsung dari alvin, takut ini adalah saat terakhirnya untuk menatap wajah itu, senyum itu, dan tawa itu.
“Balik aja yuk ke kamar lo, enggak baik lama-lama disini” bujuk cakka.
“Lo berdua balik aja duluan, ada yang mau gue omongin sama agni dulu” cakka dan ify tersenyum penuh arti.
“Ya udah, gue sama ify nunggu lo berdua di kamar ya” pamit cakka di sertai anggukan oleh ify.
“Oke..”
“Kka, fy..” baru setengah langkah mereka berjalan, suara alvin membuat mereka berbalik lagi.
“Kenapa vin ?” tanya ify lembut.
“Makasih ya..”
“Buat ?” tanya cakka bingung.
“Semuanya, selama ini, kalian emang yang paling sejati buat gue” cakka dan ify kompak tersenyum ke arah alvin, begitupun juga alvin tersenyum ke arah mereka. Sementara itu agni merasa terpaku di tempatnya, karena semakin ia memperhatikan tingkah laku alvin, semakin besar rasa ketakutannya bertambah.
“Kok hari ini lo kebanyakan bengongnya sih ag ? enggak seru ah..”
“Eh, enggak kok, perasaaan lo doang kali..”
“Gue punya surprise buat lo, tunggu disini ya..” agni hanya bisa mengangguk, ia melihat alvin mengambil gitar.
“Gitar darimana ?” tanya agni tidak bisa menyembunyikan rasa herannya.
“Tadi sebelum gue kesini, gue minjem dulu gitar ini sama satpam rumah sakit hehe. Nah sekarang lo diem disitu, dengerin lagu ini, lagu yang gue ciptain khusus spesial buat elo..” agni merasa speechless dengan ucapan alvin, baru alvin memainkan intro lagunya saja, hati agni sudah bergetar tidak karuan.
And now… I promise you
That I will so… so close to you
Like you want me too
Like I want it too
And now I think I’m in love with you
And…this scenes got my eyes on you
For the first time yee for the first time
Alvin tersenyum ke arah agni, senyum yang terlalu indah, senyum yang berbeda dengan senyumnya selama ini, senyum yang mampu membuat agni merasa melayang di kelilingi berjuta-juta kebahagiaan.
And now… I’ll pick up the star for you
If you love me too
if you love me too
I know I’ll fly you to the sky over the seven sky
If you love me too
And now… don’t know what to do
You got me drown so deep into
Into you… so deep into you
Sambil terus memainkan gitarnya dan bernyanyi dengan suaranya yang lembut. Alvin berjalan mendekat ke arah agni, tampak begitu tampan, begitu mempesona, membuat agni terhanyut dalam suasana ini.
And now… I’ll pick up the star for you
If you love me too if you love me too
I know… I’ll fly you to the sky till the end of the rainbow
End of the rainbow
Little by little pass your life embrace your heart
Light my love melt into your soul
Into your soul yeahhh
That my love that your life embrace your heart
melt into your soul
End of the rainbow
Over the seven sky yeiyeyehhh
Di akhir lagu, alvin berhenti di hadapan agni. Ia meletakkan gitarnya, lalu meraih tangan agni, mengajaknya berdiri bersamanya.
“Ini untuk pertama kalinya lagi, gue main gitar setelah setahun gue ngejauhin gitar. Dan ini untuk pertama kalinya juga, sebuah lagu gue ciptain untuk seorang perempuan yang saat ini lagi berdiri di depan gue. Gue tahu, gue cuma seorang cowok lemah yang bahkan enggak bisa ngejaga diri gue sendiri, gue tahu, gue....”
“Stop, jangan ngomong lagi” potong agni sambil memeluk alvin. Air mata yang sejak tadi ia coba pertahankan agar tidak mengalir, akhirnya mengalir juga.
“Lo nangis ag ?” agni menggeleng kuat-kuat, ia tidak ingin alvin melihatnya menangis.
“Gue enggak minta lo jadi cewek gue, gue tahu kok, waktu perkenalan kita masih terlalu singkat, lagian gue juga tahu, lo pantes dapet cowok yang sehat enggak kaya gue, tapi biar gue enggak mati penasaran, gue cuma pengen tahu perasaan lo doang, gue....”
“Udah alvin udah, jangan ngomong lagi, tolong..” potong agni lagi di sela-sela tangisnya, entah kenapa setiap kata yang alvin ucapkan, terasa menguatkan naluri ketakutannya akan waktu-waktu terakhir diantara mereka.
“Agni, lo nangis ya ?” alvin berusaha melepaskan pelukannya dari agni, tapi agni malah semakin mengeratkan tangannya di pundak alvin.
“Gue sayang sama lo, gue enggak peduli seberapa lama kita kenal, gue sayang sama lo, dan gue enggak mau lo pergi kemana-mana..” bisik agni lirih.
Alvin mengelus-ngelus rambut agni, ia mendekap agni lebih kuat daripada sebelumnya “Kalo Tuhan ngijinin, gue sanggup meluk lo terus selamanya..”
***
Satu tahun kemudian.
Suara kicauan burung yang bersahut-sahutan riuh, menandakan pagi hari yang telah datang kembali. Membawa sejuta rencana untuk hari ini. Entah rencana yang mana yang akan Tuhan pilih untuk di kabulkan, yang jelas setidaknya, masih ada kesempatan untuk berharap di hari ini.
“Happy birthday to you..happy birthday to you..happy birthday..happy birtday..happy birthday alvin..”
Dengan gerakan singkat, agni mengecup kening alvin lalu tersenyum ke arahnya.
“Selamat ulang tahun my bro..” timpal cakka, menghampiri alvin dan memeluknya.
“Happy birthday ya vin..” sahut ify sambil meletakkan kue ulang tahun yang tadi ia pegang di meja samping tempat tidur alvin.
Alvin mencoba tersenyum meski bibirnya sama sekali tidak membentuk senyuman, ia mengedipkan matanya dua kali ke arah mereka bertiga. Agni menarik kursi dan duduk di samping alvin.
“Sama-sama ganteng..” ujar agni lembut, ia mengangkat tangan alvin yang terkulai lemas, dan mengeluskannya di pipinya.
Inilah alvin sekarang, sejak malam itu, alvin koma selama hampir satu bulan dan saat sadar, seluruh saraf di tubuhnya tidak lagi mau berfungsi untuknya. Hanya dengan kedipan mata saja, alvin dapat berkomunikasi. Sekali kedip, artinya sayang, dua kali kedip seperti tadi artinya terimakasih, dan bahasa isyarat lainnya, yang hanya agni, cakka dan ify yang tahu.
Selama setahun ini pula, agni, cakka dan ify bergantian menjaga alvin. Mereka salut dengan kemampuan alvin untuk terus bertahan, meski dokter sudah berulang kali memprediksi umur alvin tidak akan lama.
“Vin, aku punya hadiah buat kamu” agni mengeluarkan sebuah buku bersampul coklat susu dan memperlihatkannya di depan muka alvin.
“Ini buku yang di ambil dari kisah kamu, judulnya story in our life” terang agni sambil membuka halaman-halaman yang ada dan menunjukkannya untuk alvin.
“Elo mau tahu enggak kenapa judulnya story in our life ? karena buku ini, nyeritain tentang lo dari sudut pandang kita, dari sudut pandang gue, sudut pandangnya ify dan tentu aja sudut pandangnya agni. Cerita dalam kehidupan kita, itu kan artinya, semoga cerita lo enggak cuma ngisi hidup gue, ify dan agni, tapi juga ngisi semua orang yang baca buku ini” jelas cakka panjang lebar. Alvin mengedipkan matanya tiga kali, tanda ia mengerti maksud pembicaraan cakka.
“Gue bisa bayangin deh, buku ini bakal jadi best seller, dan bakal banyak orang yang ngidolain elo..” timpal ify.
“Alvinnya agni emang hebat” puji agni tulus, sambil meletakkan kepalanya di dada alvin.
“Alvin..” semua orang menoleh ke arah pintu, terlihat wanita paruh baya berdiri disana. Agni tampak berusaha mengingat karena wajah ini terasa pernah ia lihat sebelumnya, sementara cakka langsung menghampiri wanita tersebut.
“Kemana aja tante selama ini ? setelah sekian tahun, baru sekarang tante berani dateng !” ify mendekat ke arah cakka, ia meraih tangan cakka dan menggenggamnya, berusaha meredam emosi yang ify tahu bisa meledak kapanpun.
“Tante minta maaf, tante tahu tante enggak pantes berdiri disini, tante tahu itu..”
“Tante mamanya alvin ya ?” tanya agni pelan, wanita itu mengangguk, ia berjalan ke arah alvin.
“Alvin, maafin mama ya..” alvin mengedipkan matanya beberapa kali, membuat mamanya bingung dan menoleh ke arah agni yang berdiri di sampingnya.
“Alvin bilang, dia enggak marah sama tante, dia sayang sama tante” ujar agni layaknya seorang alih bahasa. Mamanya alvin memandang alvin lirih, ia mengangkat tubuh alvin, agar ada dalam dekapannya.
“Maafin mama ya vin, mama tahu, mama enggak pantes di sebut mama, karena mama bahkan enggak tahu apa yang kamu maksud, enggak tahu apa yang kamu mau, enggak ada saat kamu butuh mama, mama bener-bener minta maaf, dan selamat ulang tahun, jagoan..” agni merasa terharu dengan apa yang ia lihat ini, apalagi melihat alvin, yang meskipun pandangannya kosong, tetapi pancaran matanya yang bening, seolah menerima semuanya dengan ikhlas.
Begitu juga yang di rasakan oleh cakka dan ify. Seumur-umur cakka menjadi sahabat alvin, baru kali ini, ia melihat mamanya alvin memeluk alvin. Meski telah lama waktu yang terbuang hanya untuk sebuah pelukan itu, tapi setidaknya hal ini terjadi daripada tidak sama sekali.
“Kamu senengkan, di hari ulang tahun kamu, kita semua kumpul disini ?” tanya agni setelah mamanya alvin melepaskan pelukannya dan membaringkan alvin kembali. Alvin tampak mengedip lagi.
“Mau tidur ? tumben, masih pagi lho. Tapi ya udahlah, kamu tidur aja ya..” agni menarik selimut, dan menutupinya ke tubuh alvin.
Lagi-lagi alvin berusaha tersenyum, meski tetap saja tidak ada perubahan berarti di wajahnya, sejenak ia memandangi wajah orang-orang terkasihnya, agni cahaya yang menuntunnya untuk maju, cakka anugerah indah yang menerimanya apa adanya, ify kelembutan yang selalu menemaninya, dan yang terakhir, sosok yang selalu dirindukannya, yang hadirnya selalu ia nantikan setiap saat meski hanya sapaan di telepon, ibu yang melahirkan namun tidak membesarkannya, ibu yang mempertaruhkan nyawa namun tidak menganggapnya ada, ibu yang baru saja mendekapnya untuk pertama kalinya dengan penuh sayang dan nyata.
Perlahan demi perlahan, matanya mulai meredup, cahaya-cahaya mulai menghilang dari penglihatannya, dan akhirnya mata itu benar-benar terpejam. Tertutup bukan untuk terbuka kembali, tertidur bukan untuk terbangun kembali, terdiam bukan untuk bergerak kembali. Tapi untuk menjemput keabadiannya yang abadi, menuju tempat yang lebih indah yang suatu saat nanti juga akan mempertemukannya dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya saat ini.
TAMAT.