Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2015

Eulogy [Drabble]

eulogy |ˈjuːlədʒi|
noun (pl.eulogies)
a speech or piece of writing that praises someone or something highly, especially a tribute to someone who has just died

*

Kei chuckled to herself when the dots of rain begin to pour outside, since this morning the sky was already so dark and the hanging cloud just waited themselves to dropped the water they stored. It was so glommy, everyone’s wearing black, it’s really like scene from sad movie or video clip about tragic song.

Everything was so fit. The sad and pain feeling were everywhere.

Kamis, 29 Oktober 2015

No More [Drabble]

Stasiun Tugu, Oktober 2015.

“Ash ?”

Ku alihkan pandangan mataku dari layar handphone, mengarahkannya pada sesosok Laki-laki bersweater abu-abu yang juga sedang menatapku dari balik kacamata bulatnya.

“Al!” Seruku segera, “Mau kemana ?”

“Pulang ke Jakarta. Kau sendiri ?”

“Sama.”

Ia menggerakkan matanya ke kanan-kiri, seperti sedang mencari sesuatu atau…seseorang ?

Selasa, 29 September 2015

C.O.F.F.E.E [Cerpen]

You don’t spell love, you feel it – Pooh

***

Seoul, Juni 2011

Coffee.

Classic scene.

“Seung Mi eonni!”

Gadis cantik berambut panjang itu hanya bisa tersenyum kecil mendengar suara khas adiknya, yang menyapa dirinya tanpa malu-malu di tengah keramaian seperti ini –tipical. Kafe kecil dengan aroma kopi yang menggoda itu memang sedang dipenuhi oleh para pelanggan yang mendapat undangan atas pembukaan cabang baru ini. Termasuk dirinya.  

“Maaf, aku terlambat.” Ujarnya, sambil melayangkan senyum ke arah semua orang yang ada di seputaran meja kafe yang ia tuju, dimana adiknya, oppanya, dan tentu saja teman-teman oppanya sudah menunggunya.

Senin, 02 Februari 2015

Need to Stop [Cerpen]

And one day we will spend our last day waiting on a tomorrow that will never come – Unknown.

*

“Gue—gue mau keluar dari Grey Rhymes.”

Tidak sampai setengah detik setelah kalimat itu meluncur, semua pasang mata yang ada di ruangan itu langsung membulat sempurna, raut keterkejutan tergambar jelas, suasana hening yang tadinya memenuhi sudut-sudut ruangan dalam sekejap berubah menjadi diam yang mencekam.

“Alasannya, Al ?”

“Everything’s just too much, Yo. Gue enggak bisa lagi, maaf.”

*

“Dan menurut lo, everything’s-not-too-much-to-us , Al ?!” Gabriel menatap Alvin tajam, membuat orang-orang di sekeliling mereka menjadi waspada, “Band ini bukan punya lo sendirian yang bisa lo tinggalin gitu aja!”

“Yel—bukan gitu, gue—“

“Egois lo !”

Jumat, 03 Oktober 2014

Seven [Cerpen]


One second.

Hanya satu detik, hanya satu ‘tik’ setelah laki-laki berkemeja biru itu membaca pesan yang masuk ke ponsel pintar layar sentuhnya itu, dan ia segera berdiri begitu saja, mengagetkan orang yang ada di sekelilingnya, tanpa mempedulikan apapun, ia meraih ranselnya yang tergeletak di lantai –di sebelah kaki kursi yang tadi di dudukinya, dan segera berlari keluar.

“Yak, Gabriel ! Mau kemana kamu ?!”

Dan, serius, ia tidak peduli meski mungkin mulai hari ini dosen tergalak se-Fakultasnya itu akan mem-blacklist namanya.

As Much As You Love Her [Cerpen]



Sir, I'm a bit nervous
'Bout being here today
Still not real sure what I'm going to say
So bare with me please
If I take up too much of your time,

*

Desahan nafas lega jelas terhela dari bibir mungil berwarna cherry itu. Tanpa peduli dengan terik matahari yang menyengat atau bagaimana angin mengibarkan helaian rambut hitam panjangnya, perempuan bercardigan jingga itu setia di tempatnya sejak setengah jam lalu. Sejak benda bersayap dengan corak dan warna hijau yang khas tersebut meninggalkan landasan dihadapannya dan kini mendarat kembali.

Degup jantungnya masih berirama cepat, meski bukan baru pertama kalinya, tapi tetap saja, melihat akrobatik di udara selalu membuatnya berdebar.

“Dia pilot yang hebat, jangan meragukannya.”

Sabtu, 14 September 2013

Drabble : Give Up

Bibir pucat yang bergetar pelan itu mencoba menelan suara-suara yang ingin keluar dari dalam tenggorokannya. Ia membenci itu. ia membenci menangis dengan suara. Tangan kanannya memegang erat kaos ungu bergambar the simpson yang telah ia kenakan sejak tengah hari kemarin tepat di bagian dada. Sementara tangan kirinya hanya terkulai lemah begitu saja, tanpa sekalipun berniat untuk menghapus setiap butiran air mata yang jatuh dan terus jatuh, yang kini membuat selimut merah jambunya mulai basah.

Dan sesak itu mulai membuatnya susah bernafas,

membuat pening di kepalanya dan suara-suara ditelinganya berkejaran seperti dalam perlombaan marathon,

membuat matanya kembali melirik benda di ujung tempat tidurnya yang berkilauan terkena cahaya lampu,
sebuah gunting berwarna biru.

Haruskah ?

Bolehkah ?

Ia punya banyak pertanyaan. Tapi ada satu kalimat beserta tanda tanya yang tak pernah benar-benar ia suarakan. Yang terlalu takut untuk ia utarakan.

Akankah, akankah ada yang merindukan hadirnya ?

Jumat, 28 Juni 2013

I Won't Give Up [Cerpen]

This story is dedicated for those who keeps asking me to torturing Alvin.
Thanks for having faith on me and always motivate me with all your kind of supports.

Enjoy.

*

I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up, still looking up.

[I Won’t Give Up – Jason Mraz]

*

Ia tidak tahu sudah berapa menit yang berlalu, ia hanya berlari dan terus berlari, memaksa kaki-kaki panjangnya bergerak secepat yang ia bisa, membuat hentakan yang keras antara converse merahnya dan lantai yang ia lalui. Ia tidak peduli pada apapun.

Ada yang harus ia temui dengan segera.

Ada yang –semoga saja, sedang menunggunya.

Jumat, 21 Desember 2012

White Christmas [Cerpen]

Bruuk!

Perempuan berambut panjang itu bergumam kecil, ketika sikunya tak sengaja menyenggol sebuah kotak yang terletak di sudut meja hingga terjatuh dan isinya tersebar di lantai. Ia segera meletakkan tumpukkan buku yang dibawanya ke atas meja secara asal, dan segera berlutut untuk membereskan isi kotak tersebut.

Awalnya, ia tidak begitu menyadari, pikirannya sudah terlanjur penuh dengan kegiatan bersih-bersihnya di apartemen baru ini, tapi ketika lembaran-lembaran polaroid yang merupakan isi dari kotak tadi berpindah ke tangannya, menampakkan apa yang terbingkai disana, ukiran senyum manis sekaligus rindu, tak mampu untuk tak terlukis di bibirnya....

....dan mungkin juga, pedih.

Rabu, 15 Agustus 2012

Late [Cerpen]


Bola mata hitam pekatnya tetap memandang lurus pada deretan kalimat di buku sejarah yang sedang di bacanya, sama sekali tidak melirik meski hanya sedikit pada uluran tangan dengan kuku-kuku cantik berwarna merah muda yang sejak beberapa menit lalu terarah kepadanya.

“Uhm,” gumam ragu itu mengiringi perkenalan yang terasa aneh ini, “oke..” tangan itu ditarik kembali oleh pemiliknya, dan meski tak melihat –dan juga tetap fokus membaca, melalui ujung mata sipitnya, ia bisa melihat bagaimana penghuni baru kursi kosong di sebelahnya itu menggigit bibirnya dan menatapnya penuh tanya.

“Err..kaya yang tadi di depan kelas aku bilang, namaku Ashilla, dan..uhm semoga kita bisa temenan, ya ?”

Kamis, 07 Juli 2011

It Has To Be You [Cerpen]

Dengan kecepatan sedang, namja itu mengendarai mobil mewahnya, membelah jalanan Seoul yang tidak begitu ramai sore itu. Di sela-sela kesibukannya yang begitu padat, akhirnya beberapa jam yang lalu ia mendapat kesempatan untuk dapat bertemu dengan orangtua dan adik laki-lakinya, sesuatu yang begitu berharga dan sulit  terjadi, padahal mereka masih tinggal di kota yang sama. Aktivitasnya sebagai seorang artis membuat waktunya menjadi begitu terbatas.

Sambil terus mengemudi, ia menyenandungkan beberapa lagu, sekedar mengisi kekosongan. Ia membelokkan mobilnya ke kanan, tepat ketika sesosok tubuh berlari dari trotoar jalan tanpa melihat-lihat terlebih dahulu.

“Ckiiiiiit !” reflek namja itu langsung menginjak  pedal rem-nya kuat-kuat, dan juga menghentikan laju mobilnya. Dengan terburu-buru ia keluar, dan segera menghampiri orang tersebut, yang kini tampak terduduk di tengah jalan.

Sabtu, 14 Mei 2011

Love You Secretly [Cerpen]

Ketika tidak ada lagi hari dimana aku bisa melihatmu..
Ketika derap langkahku tak mampu lagi mencapai sisimu..
Ketika hela napasku tak bisa lagi memenuhi udaramu..
Maka saat itu..
Mungkin..kau akan tahu..
Aku mencintaimu
***

Eunhyuk’s POV

Entah telah berapa kali aku menghela napasku, sambil menatap titik-titik bintang di atas sana. Ku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, pukul 02.15 dini hari, dan aku masih belum merasakan ngantuk sedikitpun. Padahal seharian ini, serentetan tugas baru saja ku jalani yang tentu saja telah menguras seluruh tenagaku.

Jumat, 29 April 2011

Tak Terucap (cerpen)

Rintik hujan membasahi bumi perlahan, dengan alurnya yang selalu sama, ia selalu berhasil membuat setiap sudut kota basah olehnya.
Mungkin sama seperti dirinya. Dengan caranya yang sama, ia selalu saja bisa, bisa membuat aku berlinang air mata, bisa membuat aku mengalirkan rinai-rinai kepedihan yang aku benci. Yang aku benci.
Tangis tentangnya, bukan tentang cinta yang berhenti ditengah jalan dan lantas terlupa. Air mata selalu jatuh untuk segala penyesalan, untuk kebodohan, untuk kesalahanku. Salahku atas dirinya dan diriku. Salahku, menumpahkan pekat di atas kenangan kita, di lembar cerita kita.
Mataku masih menatap air yang terus luruh dari langit-langit di atas sana. Memandanginya dalam diam dari balik jendela kamar, merenunginya, melihat sosok yang ku sakiti di dalam bulir airnya. Aku mendesah, merutuki diriku sendiri, mentertawai diriku yang masih merasa bersalah namun tak pernah meminta maaf padanya.
Minta maaf ?

Jumat, 22 April 2011

Kamu dan Hujan (cerpen)

Jakarta, 25 agustus 2010
Gadis itu menengadahkan tangannya, merasakan butiran-butiran air yang menetes dengan deras. Senyum tipis terpulas di wajah gadis itu. Hujan selalu mengajaknya melanglang buana menuju lintas masa lalu.
Tanpa ragu, dan entah karena dorongan apa, ia melangkahkan kaki kecilnya keluar dari emperan toko tempatnya berteduh tadi. Membuat semua orang yang ada disana tidak habis pikir oleh kelakuannya.
Layaknya seorang anak kecil, ia berdiri di tengah hujan, merentangkan tangannya, seolah berkata “Ayo hujan, peluk aku dengan caramu”.

Yang Tak Terlihat (cerpen)

Gemuruh hujan yang menyapu bumi tanpa ampun, menimbulkan riak-riak basah hampir di seluruh sudutnya yang tak bertepi. Menimbulkan suasana yang begitu dingin, yang begitu luruh dengan kesunyian. Mendukung detik-detik keputus-asaan ini.
Aroma karbol, yang menyengat hidung, memerihkan mata, menjadi teman tak bersahabat namun setia sejak entah berapa jam yang lalu. Hingar bingar tak mewah yang sedari tadi terasa, meredup perlahan, meninggalkan tubuh-tubuh yang terikat dalam rasa takut dan kegusaran yang entah dimana ujungnya.
Dalam alunan waktu yang terasa menggebu, meski sebenarnya, biasa saja. Dua anak manusia itu saling diam. Diam dalam rasa diam yang mereka ciptakan. Diam dalam atmosfir bulir-bulir rasa sesak yang menghantui.

Selepas Kepergiannya (cerpen)

Aku menggigit bagian bawah bibirku kuat-kuat, berharap tidak ada air mata yang menetes turun dan akan membasahi pipiku. Aku benci menangis. Menangis hanya akan membuat dadaku sesak. Aku tidak suka menjadi lemah. Aku bukan gadis seperti itu.
Tapi sepertinya semua sia-sia, bersatunya air mata dan segumpal kesal di hatiku mampu menjebol kekuatanku. Hah, selalu saja begini ! Karena kehadirannya, karena segala hal tentangnya, ia selalu saja menjadi yang juara. Aku benci padanya ! sangat-sangat benci padanya ! ia selalu menghancurkan semuanya. Bahkan sepertinya, keberadaannya di dunia ini tidak lebih untuk selalu mengganggu hari-hariku.
Jika boleh, aku ingin ia tidak ada. Tidak disini. Tidak di rumah ini. Tidak di sekolah. Tidak di manapun.
Dimanapun.

Ketika Kemarin Memudar (cerpen)

Aku mendesah perlahan, ketika nama itu, lagi dan lagi serasa berputar di kepalaku, memenuhi pikiranku hingga sesak, mengajak aku melayang menuju hari-hari yang telah terlewati. Sampai kapan ini akan berhenti, dan membiarkan aku sendiri. Rasa kangen yang selalu menelusup di balik kulitku dan memelukku erat, sesungguhnya sangat-sangat menyiksa dan membuatku tidak nyaman.
Ini tentangnya dan masih tentangnya, seperti biasa. Ia yang selalu membuatku rapuh dan lemah. Ketika mengingat senyumnya, ketika merasakan sentuhannya, ketika ia datang dalam mimpi-mimpi malam, maka saat itu juga, air mataku dapat tumpah, tanpa terbendung sedikitpun.
Satu..dua..tiga..iya ini tahun ketiga. Tahun ketiga dimana kamu meninggalkan aku dengan tiba-tiba, tanpa pamit, tanpa pesan, tanpa pernah aku mengerti kamu dimana dan kenapa. Tapi rasa ini tidak pernah selesai. Selalu saja mengenang bahkan berharap, masa itu akan kembali, setidaknya, kamu akan datang, ke tempat dimana kita pernah bersama-sama, dan menghabiskan waktu.

Untuk yang Pernah Ada (cerpen) -sekuel For You-

Suara desis angin, berputar mengelilingi tubuhku, menyelipkan rasa dingin yang merasuk jiwa, sekaligus kesejukkan yang tidak pernah aku dapatkan di Jakarta. Aku memandang lurus ke bukit-bukit kecil di bawahku, menghirup udara bersih ini dalam-dalam, menikmatinya dengan seksama.
Dari ujung tebing, tempat dimana aku berdiri saat ini. Aku bisa mengamati semuanya, jalan-jalan tanah yang berliku, perkebunan teh yang terbentang luas, rumput hijau padang golf di sebelah timur, serta lengkung kubah boscha yang khas. Ya, aku ada di Lembang sekarang. Menghabiskan libur akhir tahunku.
“Shilla !!” suara cempreng itu, aku segera menoleh, terlihat sepupuku yang cantik, sedang berlari-lari kecil menghampiriku.
“Apa Vi ?” sahutku, hanya diam menunggunya disini.
“Ngapain sih lo berdiri di ujung tebing gini ? mau bunuh diri ya ?” tanyanya langsung, segera setelah bisa berdiri di sampingku.

For You (cerpen)

Kembalikan lagi senyumku yang manis seperti dulu
Kurasa kini aku tertahan
Menahan luka yang amat dalam
...
(kembalikan lagi senyumku by melly goeslaw)
***
Pernahkah kamu merasa, tiba-tiba saja kamu tidak mengenali dirimu. Semua terasa berbeda, sama sekali bukan kamu, seperti yang kamu kenal dulu. Ya, mungkin kamu pernah merasakannya, tapi apakah kamu pernah menjalani hidup seperti itu, terus-menerus selama lima tahun ?
Apa ?
Gila katamu ?
Tertawalah. Tapi aku sangat mengerti rasanya.
***
Classmeeting yang membosankan. Sangat-sangat membosankan. Dan aku hanya bisa duduk di depan kelasku, memandangi lapangan yang penuh oleh mereka-mereka yang sepertinya begitu semangat untuk mengisi acara ini. Tidak sepertiku.
“Ceilah, bengong aja lo”
Aku menengok ke sebelah kiriku. “Biarin, suka-suka gue sih, bukan urusan lo ini..”
“Yaelah santai Shil..” ujar orang yang tak lain adalah Ify, sahabatku. “Pasti lagi mikirin si itu..”
“Woo..sok tahu..” elakku.
“Haha..” ia terkekeh, entahlah bagian mana yang menurutnya lucu. “Ngaku aja sih, apa lagi sih, yang seorang Ashilla Zahrantiara pikirin kalau bukan si..eumphhfff”
Tanpa pikir panjang, aku langsung saja menutup mulutnya dengan tanganku, sebelum ia akan menyebutkan nama itu dengan lantang. “Diem, baru gue buka mulat lo ..” ancamku sambil menatapnya tajam, agak sadis memang.
Ify menganggukan kepalanya, dan sedetik kemudian, aku lepaskan tanganku.
“Heh ?! gila lo ! pengap woi gue, kejem amat sih sama temen sendiri” semprotnya kesal, mengibas-ngibaskan tangan ke arah wajahnya, seolah memanggil angin agar mendekat ke arahnya.
“Bodo ! daripada elo frontal nyebut namanya” sahutku enteng.
“Lo kenapa sih ? lagi dapet ? apa pms ? sensi amat neng” Ify misuh-misuh sendiri. Melihatku sikapku, yang aku akui, sedang agak menyebalkan saat ini.
Dengan memasang muka polos, atau datar ? aku hanya menggeleng sambil mengangkat kedua pundakku bersamaan.
“Ahh, cerita dong, elo kenapa ?” pintanya.
“Enggak apa-apa Fy, udah ah, gerbang udah dibuka belum ? mau balik nih gue, gerah banget disini” ujarku, mengalihkan pembicaraan. “Gue ke kelas ya Fy..” sambungku lagi, sambil berdiri dan masuk ke dalam kelas.
Tanpa aku menoleh. Aku tahu pasti, saat ini Ify pasti sedang memandangku dengan pandangannya yang penuh menyelidik itu. Bukan aku tidak ingin membaginya. Hanya saja aku sendiri mulai lelah, jika harus kembali bercerita. Tentang tokoh yang sama, tentang rasa yang sama, bertahun-tahun ini, selalu begitu, tidak pernah berubah sedikitpun.
Ya, tentangnya. Tentang ia yang tak sedikitpun menggubrisku lagi.
Tentang ia..
Si masa lalu yang menyesakkan.
***
Jangan berakhir aku tak ingin berakhir
Satu jam saja kuingin diam berdua
Mengenang yang pernah ada
Jangan berakhir karena esok takkan lagi
Satu jam saja hingga kurasa bahagia
Mengakhiri segalanya
Tapi kini tak mungkin lagi
Katamu semua sudah tak berarti
....
(satu jam saja by lala karmela)
***
Seandainya semua bisa di putar. Bisakah aku memintanya untuk tetap tinggal ? berdiam bersama, di lingkaran kebahagiaan yang saat itu mengelilingi kami. Aku tahu, semua yang dimulai dengan seandainya, adalah ungkapan penyesalan. Yang membuahkan kepahitan, dan kesakitan tak berujung. Apalagi jika kesalahan itu, membuatmu kehilangan. Dan kenangan-kenangan yang adapun, tak ada lagi guna, tak ada lagi arti. Semua hanya semu. Karena rasa di dalamnya telah padam.
Ia merengut senyumku, tidak mengembalikannya.
Dan itu menyesakkan.
***
Aku mendekap bantalku erat. Menyalurkan segala rasa perih yang terasa malam ini. Selalu saja begini. Semua hal tentangnya, selalu memberikan efek samping padaku, dan kali ini, efek itu berupa tangis yang tertahan.
“Gue..enggak..mau  nangisin dia lagi..” desahku getir. Berusaha menguatkan diriku sendiri. “Malam ini gue enggak mau labil..enggak mau..” aku meronta untukku sendiri. Seolah dengan begitu, aku tidak lagi akan tenggelam akan pikiran tentangnya.
Meski rasanya, itu nihil.
Inilah aku. Inilah yang terjadi, jika kenangan-kenangan itu berputar kencang di dalam pikiranku. Dan ini tentu saja masih tentangnya.
Dia.
Sesosok laki-laki, yang entah bagaimana caranya membuatku takluk dan tidak mengerti untuk menghentikannya.
Dan lihatlah hari ini. Ify telah menjadi korban karena rasa siksa, yang aku tahu, aku ciptakan sendiri. Ah, kenapa sih aku masih mencintainya ? laki-laki bukan hanya dia seorang kan ? jadi kenapa rasa ini tetap saja bertahan disini, dan tidak ingin beranjak meski seincipun.
Setelah merasa lebih baik. Aku turun dari ranjangku, bersimpuh di depan rak buku, membuka lacinya yang terletak di paling bawah. Aku mengeluarkan sebuah kotak, beberapa kali, aku menghela nafas, dan kira-kira di detik yang kedua puluh, aku membuka kotak itu, mengambil sebuah buku berwarna merah dari dalam sana.
Hanya memandanginya. Untuk beberapa saat. Tapi rasanya sesak. Buku itu menyimpan semuanya.
Bagaimana ia menyatakan perasaannya padaku, lima tahun lalu.
Bagaimana ia meminta ijinku padaku, untuk memanggil aku dengan sebutan yang hanya miliknya, lovely, di bulan kedua setelah kami berpacaran.
Atau bagaimana ia yang selalu memujiku dengan kata-kata lucu, hingga bagiku kata itu hanya berarti jika ia yang mengucapkannya.
Serta bagian paling pahit, yang aku tulis dengan getir, ketika akhirnya semua berakhir. selesai.
Cukup hanya dengan melihatnya, aku kembalikan lagi buku itu. Aku tidak mau melihat isinya. Aku tidak sanggup melihat isinya. Tidak untuk hari ini. Meski hanya untuk satu jam.
***
......
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Kutahu kau tahu
Aku ada
(Aku Ada by Dewi lestari)
***
Meski hanya sekali. Tapi aku ingin bisa memandangnya lagi. Untuk beberapa detik saja. Ia tidak perlu tahu. Walaupun, jujur saja, aku juga ia ingin mengerti, meski hanya seujung kuku.
Aku masih ada disini.
Bukan hanya raga, tapi juga jiwa.
Dan lagi-lagi ini hanya sebuah khayalan.
Bagian dari harapan yang aku mengerti tidak akan pernah terjadi.
***
“Lo harus move on Shil !”
Kalimat itu lagi. Rasanya, jika aku ini rajin, dan bersedia repot untuk membuat daftar, ini bukan untuk pertama kalinya bahkan mungkin ini sudah terletak di urutan keseratus berapa, kalimat ini terlontar untukku.
Baiklah aku mengerti. Move on. Mencoba untuk bangkit, dan melupakan yang telah berlalu. Tapi, heloooo...ini tidak pernah semudah itu. Aku bisa bangkit, tapi melupakannya ? beri tahu aku, bagaimana caranya, aku bisa melupakan dia, sementara hampir setiap detik, apapun yang ada di sekitarku mengingatkanku kembali padanya.
“Iya..gue tahu” jawabku singkat, cenderung malas.
“Tahun pertama, okelah gue maklum, tahun kedua, masih oke, tahun ketiga, itu udah ngelewatin tiga kali tahun baru dan artinya itu udah masuk tahap waspada, tahun ke empat, oh God, ada banyak cowok di luar sana Shil, dan tahun kelima ?! saatnya elo berhenti dan ngelupain dia, jangan sampai ketemu tahun ke enem !” Ify berceloteh panjang lebar, sambil menjabarkan jarinya. Seperti anak umur lima tahun yang baru belajar menghitung.
“Fy, gimana gue mau lupain dia, kalau tiap hari aja, elo enggak berhenti ngebahas tentang dia”
“Gue cuma ngingetin, sepuluh hari lagi, kita masuk ke tahun yang baru, dan gue enggak mau lo masih aja ngarepin dia”
Aku melengos. Benar juga si Ify, dalam hitungan jari-jari ini, waktu yang baru akan tiba. Dan aku sama sekali tidak menghasilkan perubahan apapun, oke, itu menyedihkan.
“Kasih tahu gue Fy, gimana caranya gue bisa lupain dia..”
Ify memandangku, menghembuskan nafas. “Enggak ada cara yang pasti buat melupakan seseorang, yang ada cuma niat, kemauan, dan kalau itu ada di dalam diri lo, kalau lo berusaha buat ngelawan semua rasa itu pakai niat dan kemauan lo, lo pasti bisa..”
“Gue takut. Berhenti sayang sama dia, sama aja merubah hidup gue. Lima tahun ini, sejak gue bangun pagi sampai gue tidur lagi, dia selalu ada. Dia kaya drugs, gue ketergantungan sama dia. saat gue sedih, saat gue butuh dukungan, yang gue inget pertama adalah dia, kata-katanya yang dulu nyemangatin gue, senyumnya yang selalu bisa bikin gue tenang..gue takut Fy..”
“Tapi mau sampai kapan elo kaya gini ?”
“Kalau ada obat, atau alat yang bisa bikin gue lupa sama dia, pasti gue beli, berapapun harganya” ujarku mulai meracau. Membuat Ify tersenyum simpul. 
Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tanpa aku sadari, tidak hanya ada aku dan Ify di dalam angkot ini. Ada orang lain disini, yang pasti sejak tadi memandangku bingung. Atau memang aku selalu seperti ini ? hidupku terlalu penuh tentangnya. Hingga aku lupa, aku tinggal di salah satu negara dengan penduduk terbanyak. Tapi rasanya jika begini, bahkan tatapan mereka yang biasa aja, seolah seperti meremehkanku, dan obrolan mereka yang sesungguhnya tidak ada sangkut pautnya denganku, seakan-akan sedang mengejekku.
Aku si cewek lemah
Yang tidak mampu untuk bangkit.
“Riko..” desisku pelan. Sangat pelan. Hingga sepertinya, aku hanya melafalkannya saja, tanpa suara. Tapi Ify yang duduk di depanku, langsung sadar, dan memutar badannya, melihat pemandangan di belakangnya. Lalu ia kembali memandangku lagi, lantas menggenggam tanganku erat.
“Sabar ya Shil..” ujarnya pelan. Dan aku hanya tersenyum.
Angkot yang aku tumpangi ini, memang melewati sekolah Riko.
Siapa dia ?
Oh, aku belum mengenalkannya ya ?
Dialah, si-masa-lalu-tak-kunjung-padam yang sering aku sebut-sebut itu.
Ia sedang berdiri di depan sekolah. Bersama teman-temannya, dan di sampingnya, ia tidak sendiri. Ia bergandengan dengan seorang perempuan. Cantik. Seperti mantan-mantannya yang lain, kecuali aku mungkin. Aku jadi teringat, peristiwa beberapa bulan lalu. Saat aku datang ke sekolahnya karena ada sebuah lomba, dan ya, aku melihat pemandangan yang sama.
“Gue enggak apa-apa kok Fy”
“Bohong”
Ify benar, aku berbohong. Tapi ya sudahlah, ini doaku kan ? aku ingin melihatnya, dan tadi aku melihatnya. Setidaknya, meski ia tidak menyadarinya, sama sekali tidak menyadarinya, dan mungkin tidak akan repot-repot untuk menyadarinya, aku ada.
Disini, untuknya.
***
I tried to run from your side
But each place I hide
It only reminds me of you
.....
(It only reminds me of you by mymp)
***
Rasanya, kemanapun kakiku melangkah, ia tetap saja menempel kuat. Atau karena ia telah terlanjur berkerak di dasar hatiku ?
Dan satu-satunya yang aku lakukan, hanyalah membuat zona amanku. Berlindung di balik selubung itu. Melakukan semua dengan biasa-biasa saja. Ya, aku bisa melakukan semuanya di dalam zona amanku. Melaluinya seperti sebuah alur yang lurus dan memang harus begitu. Sesungguhnya itu membosankan. Amat sangat membosankan.
Tapi bagaiman lagi.
Hanya di dalam sana, aku merasa baik-baik saja.
***
Dan hari ini, aku kembali menjadi remaja yang sedang dalam kegalauan akut. Sampai kapan sih aku harus begini ?
Selalu mengingat segala tentangnya !
Segala tentang kita !
Padahal ia ? aku yakin, mungkin yang ia ingat hanya namaku, selebihnya ? kosong.
Sementara aku ? perlukah aku jabarkan ?
Baiklah.
Aku masih ingat tanggal jadian kita, bahkan tanggal putusnya..
Aku masih ingat apa saja yang ia pernah lakukan bagiku.
Aku masih bisa mengingat dengan jelas, sms-sms apa yang pernah ia kirimkan untukku.
Dan tentu saja, aku juga masih mengingat, hal-hal kecil tentangnya.
Seperti hari ulang tahunnya, dimana aku selalu menahan ngantuk hanya untuk menjadi orang pertama yang mengucapkan hari ulang tahunnya, meski hanya lewat angin.
Atau makanan kesukaannya.
Rumah sakit tempat ia di lahirkan, ini memang tidak penting sih, tapi aku mengetahuinya.
Nomor telepon rumahnya, meski aku sama sekali tidak pernah berani buat menghubungi nomor ini.
Ahh ya, ternyata aku memang sangat menyedihkan ya ?
Silahkan tertawa untukku. Tapi memang itulah yang terjadi.
Aku membenamkan wajahku di bantal, dan air mata itu mulai menetes. Dan saat seperti ini, rasanya jika boleh berandai-andai, aku ingin ia menawarkan pundaknya, atau setidaknya menyodorkanku selembar tisu. Dan dalam tangisku, aku tertawa miris, bagaimana bisa aku berkhayal seperti itu, ia bahkan tidak tahu detik ini aku sedang menangis untuknya. Tidak pernah tahu.
Dan apa yang akan ia lakukan jika ia tahu ?
***
Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi
Sudut gelap hati ini
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta ku dapat
....
(Berhenti berharap by sheila on7)
***
Bolehkah aku meminta satu ?
Aku hanya ingin semuanya berakhir. benar-benar berakhir, entah bagaimana caranya.
Ini mulai tidak sehat. Ini mulai menggangu, dan tentu saja, lama-lama ini bisa membuatku benar-benar gila.
Oke, aku memang baik-baik saja hingga saat ini. maksudku, aku tetap bisa makan tiga kali sehari, masih tetap bisa bermain bersama teman-temanku, masih bisa melakukan hobiku. Tapi sejauh apa sih aku mampu bertahan ?
Pasti tidak akan lama lagi kan ?
***
Suara denting-denting dari alunan musik klasik yang sepertinya sengaja di putar di kafe ini, mewarnai telingaku, yang entah kenapa, memutuskan untuk duduk sendiri, menghadap secangkir latte tanpa di temani siapapun.
Kafe ini, ada di komplek rumahku, sebuah kafe kecil yang menurutku cukup nyaman untuk mencari ketenangan, apalagi bagi orang-orang seperti aku, yang hidupnya di penuhi oleh dilema-dilema hidup, yang sesungguhnya tidak begitu penting, di bandingkan dengan masalah orang lain yang mungkin saja lebih besar.
Suara klenengan yang khas, menjadi pertanda ada yang membuka pintu masuk. Dan benar saja, ketika aku mengarahkan mataku ke pintu, ada tamu yang baru datang. Tunggu, hei apa-apaan ini ?! kenapa disaat aku sendiri begini, ia malah harus hadir. Ahh, apa yang harus aku lakukan Tuhan ?
Dan ia sadar, akan aku yang sedari tadi terus menatapnya. Sambil tetap menggenggam tangan perempuan, yang tidak aku kenali siapa itu, ia tersenyum ke arahku, dan sepertinya akan segera menghampiriku. Bahkan tanpa kaca, aku bisa merasa wajahku pucat pasi sekarang.
“Hei Shil..”
“Hei..” ujarku dengan suara bergetar dan gugup. Sial !
“Oh ya kenalin, ini Acha sahabat gue”
“Hai..”
Lagi-lagi aku mengulang kata sapaan yang sama. Otakku seperti berhenti bekerja dan mencerna kata untuk sesaat. Tapi tunggu, apa tadi dia bilang ? sahabat.
“Gue Acha..” ujar perempuan itu ramah, menyodorkan tangannya, yang tentu saja langsung aku balas. “Elo mantannya Riko ya ?”
Pertanyaan itu, sudah berapa orang saja yang setiap bertemu denganku, pasti menanyakan itu. Apakah Riko juga mendapat perlakuan yang sama ? sepertinya sih tidak.
“Hehehehe..” aku hanya bisa terkekeh untuk menjawab pertanyaan itu.
“Haha..dulu banget ya Shil, cinta monyetlah” celetuk Riko.
Cinta monyet. Taraa..akhirnya aku mengerti sekarang. Aku hanya cinta monyet baginya. Yayaya..aku memang tidak akan berarti apa-apa lagi. Oke, terimakasih Riko, sepertinya malam ini aku akan kembali menangis lagi.
“Hehe..” kali ini aku tertawa hambar, sangat hambar. “Err..kalian beneran cuma sahabatan doang ?”
Dan mulutku berkhianat. Ia meluncurkan sendiri kalimat itu, pertanyaan bodoh itu, tanpa ijin apapun dari ku. Aku menunduk, berharap mereka berdua tidak tersinggung dengan pertanyaanku.
“Eh ? emang keliatan banget ya Shil ? hehe..iya deh gue ngaku, kita berdua emang lagi pendekatan ehehe..doain aja ya”
Ucapan Riko barusan. Sama saja seperti ada petir dengan kekuatan bermega-mega watt yang baru saja menyerang telak padaku. membuat semuanya langsung hancur berkeping-keping.
“Oh ? ehh..iya..pasti-pasti. Eh, gue udah lama banget disini, mau balik, duluan yaa..bye..good luck” aku langsung nyerocos cepat, secepat yang aku bisa, sebelum air mataku mendahului. Tanpa menghabiskan latteku, aku langsung saja bergegas menuju kasir.
Aku menoleh sekilas, terlihat Riko, dan siapa tadi ? oh iya, Acha. tampak berbicang seru, dan sangat akrab. Aku hanya bisa mendesah pelan.
“Mbak, semuanya jadi dua puluh ribu..”
“Eh, maaf mbak, punya kertas enggak ?”
“Ada, ini..” tidak peduli, meski si mbak kasir ini memandangku bingung, aku tetap saja menulis di kertas yang ia sodorkan, beserta pulpennya tentu saja.
“Berapa tadi mbak ?”
“Dua puluh ribu”
“Ini, dan tolong kasihin kertas ini ke meja itu ya..” pintaku menunjuk meja Riko, sambil menyodorkan selembar dua puluh ribuan. Dan tanpa ingin melihat lagi, aku langsung keluar. Menjauh, kalau perlu menghilang.
***
Hai Riko, taukah kamu, bahwa aku ini pengecut ? hehe
ya, lihat saja, saat tadi kita berkesempatan ngobrol, aku menjadi gagap tiba-tiba, padahal kalau kamu tahu, tiap malam, aku selalu memikirkan tentang kamu lho..
hahaha..jangan bingung ya, tapi sepertinya, rasa cinta, yang kamu bilang cinta monyet itu, masih tertinggal deh disini. Kalau boleh, bisakah kamu mengambilnya ?
Aku udah terlalu lelah buat merasakannya..hehe
Atau setidaknya, ajarkan aku, bagaimana cara bisa melupakanmu. Seperti kamu yang dengan mudahnya melupakan aku..
Pilihan yang pintar Ko, selera kamu bagus-bagus ya, Acha cantik. Good luck buat kalian berdua..
Dan..selamat tahun baru, meski masih beberapa hari lagi..doain aku, biar tahun depan enggak perlu inget sama kamu lagi..
Biar tahun depan, aku enggak perlu begadang setiap hari ulang tahun kamu, cuma untuk jadi orang paling pertama yang ngucapin ke kamu, tanpa kamu tahu..hehe
Makasih Riko, buat semuanya.
Ashilla, si cinta monyetmu.
TAMAT.
So, this is for you, for special someone..just you..
Makasih.


Cerita Biasa (cerpen)

Ini hanya sebuah kisah biasa.
Tentang persahabatan, tentang masa remaja yang menyenangkan.
Kisah yang bisa kamu temukan dalam hidupmu sendiri.
Percayalah.
Ini hanya tentang persahabatan.
Ini bukan kisah romeo dan juliete.
Hanya sebuah kisah sederhana, dan sangat biasa.
Persahabatan.
***
Suara pantulan bola basket serta derap kaki, bagaikan menjadi pengiring musik yang khas. Belum lagi gelak tawa yang ceria. Suasana kebahagiaan yang sederhana namun luar biasa. Empat anak laki-laki itu, asik larut dalam permainan mereka. Saling mengoper dan melempar bola. Berkejaran dan berlarian. Tidak peduli meski masing-masing dari mereka telah ada di umur tujuh belas, tidak peduli meski di dompet mereka telah terselip kartu tanda penduduk, tidak peduli meski matahari telah turun perlahan ingin kembali ke peraduaannya. Mereka terus saja bermain. Bermain dan bermain.
“Host...host...”
“Lo enggak apa-apa kan ? duduk dulu deh..” dua orang di antara mereka, menepi ke pinggir lapangan. Memaksa salah satu di antaranya, untuk duduk.
“Kenapa ?” tanya yang lain, yang baru datang.
“Dia..”
“Enggak, gue enggak apa-apa, ayo main lagi..” ujarnya yang di suruh duduk tadi.
Tiga laki-laki itu, sekarang menatapnya tajam, seolah-olah mereka berumur jauh lebih tua darinya. Seperti ia adalah anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan dan akan segera di marahi.
“Serius gue enggak apa-apa..” laki-laki itu mencoba menatap mata temannya yang lain, berusaha meyakinkan, meski ia mengerti mukanya saat ini sama sekali tidak menggambarkan kalimat ‘..enggak apa-apa’ yang baru saja di ucapkannya.
“Udahlah, lagian ini juga udah sore, kita mainnya yang udah terlalu lama”
“Jangan berhenti cuma gara-gara gue” masih ujarnya lagi. Ia menyandarkan kepalanya di dinding, masih berusaha mengatur nafasnya.
“Haha..pede banget lo ! lagian gue juga udah capek kok” sahut temannya yang lain. Menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Tapi serius, gue masih bisa main”
“Besok lagi aja deh mainnya, istirahat dulu sekarang..” timpal yang satunya lagi.
“Thanks” desahnya pelan. Ia tersenyum, semuanya juga tersenyum. Senyum yang hangatnya melebihi dekapan selimut setebal apapun. Senyum yang indahnya melebihi keelokan langit sore. Senyum yang menenangkan melebihi kata-kata bijak dari seorang filsafat sejati. Senyum seorang sahabat.
***
Kemenangan terbesar dalam hidup, adalah ketika kamu menemukan sahabat-sahabat terbaik sepanjang masa.
***
Hari senin. Hari yang di tasbihkan menjadi hari yang paling menyebalkan. Bukan salahnya memang, hanya takdir yang membuatnya menjadi yang pertama, apalagi ia hadir setelah hari minggu yang menyenangkan.
Sepi. Itulah yang saat ini di rasakannya. Hari senin yang menyebalkan. Pelajaran matematika yang menjemukan. Dan hari ini ia harus duduk sendiri. Berkali-kali ia menoleh ke sebelah kanannya, yang tetap saja kosong. Tidak berpenghuni.
“Yo..Rio..pssttt..Rio..”
Merasa di panggil. Ia langsung celingukan kesana-kemari. Mencari darimana sumber suara itu berasal.
“Yo, itu Cakka disana..” Lintar yang duduk di belakangnya, menunjuk ke arah jendela kelas mereka. Dan terlihatlah wajah cakka tersembul sebagian disana. Dengan telunjuknya, Rio tahu, Cakka memberinya isyarat untuk keluar kelas. Dan tanpa perlu di beri tahu lebih lanjut lagi, Rio juga mengerti, apa yang akan mereka lakukan.
“Pak..” Rio langsung mengangkat tangannya. “Saya mau ijin ke kamar mandi”
“Cepat sana, cepat..”
“Iya pak..” buru-buru Rio langsung keluar dari kelasnya. Dan menghampiri Cakka.
“Iel mana ?”
“Dia lagi ada ulangan, gimana dong ?” tanya Cakka balik.
“Ya udah tungguin aja bentar”
“Oke deh, ayo..”
“Eh kka, elo kenapa enggak sms aja sih ?”
“Hehe..hape gue mati lupa ngecharge” tukas Cakka. Rio hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan ke arah kelas Iel. Kira-kira tiga puluh menit, mereka menunggu sambil memperhatikan Iel. Dan ketika Iel terlihat sudah selesai bergulat dengan soal-soalnya, dengan tampangnya yang stay cool itu, Rio mulai mengambil bagiannya, menjalankan aksinya.
“Tok..tok..permisi bu..” ujar Rio sopan, berdiri di ambang pintu kelas Iel.
“Ada apa Mario ?”
“Saya mau ijin manggil Gabriel bu, ada urusan sebentar tentang buku tahunan”
Iel yang juga sudah dapat menebak, apa yang sedang di jalankan kedua sahabatnya itu. Hanya tersenyum kecil, sambil bangkit dari kursinya, dan berniat mengumpulkan kertas ujiannya.
“Kamu sudah selesai Gabriel ?”
“Sudah bu..”
“Ya sudah, ibu ijinkan kamu untuk pergi dengan Mario”
“Makasih bu..” dua orang itu, mencium tangan guru mereka, dan segera keluar kelas.
“Cakka mana Yo ?”
“Lagi ngurusin bagiannya..udah ayo kita ke parkiran aja” ajak Rio, sambil merangkul sahabatnya itu. Mereka berdua sudah siap di motor masing-masing, hanya tinggal menunggu Cakka, beberapa kali sudah Iel melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.
“Udah sepuluh menit, keburu bel istirahat entar”
“Sabar Yel..”
“Eh, ngomong-ngomong kita udah lama ya enggak gila kaya gini” ujar Iel sambil memutar-mutar kunci motor di tangannya.
“Haha, hitung-hitung refreshing kelas tiga Yel..” sahut Rio.
“Sori lama..” kedatangan Cakka, memotong obrolan mereka. “Nih lihat dong, apa yang gue punya..”
“Apaan tuh ?” Iel mengambil secarik kertas yang ada di tangan Cakka. “Surat ijin keluar sekolah ? dapet darimana lo ?”
“Serius surat ijin sekolah ? ahh..gila banget lo Kka..sadis” timpal Rio.
“Haha..gue gitu, udah ayo ah, berangkat..” Cakka memakai helmnya, begitu juga Rio dan Iel. Dan ketiga motor itupun melesat meninggalkan parkiran, melewati pos satpam dengan lancar, dan tentu saja melupakan segala macam pelajaran di hari itu.
***
Suara gaduh di luar, membangunkannya. Pandangannya agak buram dan kepalanya agak berat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya, ia mencoba untuk menyandarkan tubuhnya ke kepala tempat tidur.
Klek.
“Cakka ?”
“Wess, udah bangun lo bro..”
“Rio..”
“Kata nyokap lo, lo masih tidur..”
“Iel..”
“Gimana vin, baikkan ?”
“Kalian ngapain kesini ?”
“Mau nemenin elo lah..” sahut ketiganya kompak. Dan mengambil tempat favourite mereka masing-masing. Iel di kaki tempat tidurnya, Cakka di di kursi belajarnya, dan Rio di kusen jendela yang langsung menghadap ke taman.
“Enggak sekolah ?”
Tidak ada yang menyahut, mereka saling berpandang-pandangan dan melemparkan cengiran-cengiran yang Alvin kenal, sebagai cengiran saat mereka berbuat suatu hal gila.
“Kalian cabut ya ?”
Masih tidak ada yang menyahutinya. Membuat Alvin jadi kesal sendiri. “Kalau enggak ada yang jawab, gue usir lo semua” katanya tajam.
“Eh, jangan dong, perjuangan nih bisa kesini, enak banget lo mau ngusir” jawab Cakka akhirnya.
“Ya udah, terus kenapa bisa kalian kesini, ini kan masih jam pelajaran. Kalian cabut beneran..”
“Gitulah Vin” sahut Iel.
“Ahh, gila, parah lo semua !”
“Yah Vin, elo jangan marah gitu dong, maksud kita kan baik, mau jengukin elo, mau nemenin elo, lagian lo tega apa biarin gue duduk sendirian hari ini” ujar Rio, beranjak dari tempatnya mendekat ke arah Alvin.
“Tapi enggak kaya gini juga, kita udah kelas tiga, kalau gue kan emang dispensasi, kalau elo bertiga ? lagian elo kaya enggak biasa duduk sendiri aja sih Yo, dalam sebulan berapa kali sih lo harus duduk sendiri tanpa gue”
“Ini bentuk solidaritas kita sob..” ucap Iel pelan, menyadari nada suara Alvin yang mulai tajam.
“Solidaritas macam apa sih Yel ? gue aja enek kalau harus ada di rumah kaya gini, gue aja pengen bisa terus pergi ke sekolah, tanpa perlu ada halangan apapun, dan elo bertiga malah kaya gini ! sarap tahu enggak !”
Melihat Alvin mencak-mencak seperti itu, Rio, Iel, dan Cakka jadi merasa bersalah sendiri. Mereka saling berpandang-pandangan, dan entah karena naluri batin mereka yang memang sudah terlalu tertanam kuat atau bagaimana, mereka sama-sama tahu, apa yang harus mereka lakukan saat ini.
“Ya udahlah, mungkin better kalau elo istirahat sendiri sekarang, kita balik deh ke sekolah..” ujar Cakka. Berdiri dan mencoba tersenyum ke arah Alvin, yang masih menatapnya tajam.
“Cakka benar, lagian adanya kita disini, malah bikin elo enggak bisa istirahat lagi” timpal Iel.
“Ya udah, kita balik ya Vin, get well soon” sambung Rio. Mereka bertiga beriringan, menuju pintu kamar Alvin.
Alvin menghela nafas, melihat sahabat-sahabatnya itu. Bukan ia tidak senang mereka kemari, hanya saja, cara yang mereka tempuh ini sama sekali tidak Alvin sukai.
“Ouh..shitt..” Alvin mengumpat pelan, ketika ia  merasa cairan kental mulai mengalir dari kedua lubang hidungnya, dan kepalanya bertambah berat. Semua tampak berbayang. Alvin berusaha menggapai-gapai tisu, yang tempatnya terletak di meja kecil samping tepat tidurnya.
“Prang !!”
“ALVIN !”
Suara Rio, Iel, dan Cakka seperti bersatu, memanggilnya. Namun semua tampak berputar, berpusar, dan tiba-tiba menggelap. Hitam dan pekat.
***
Wajah-wajah itu langsung tampak memenuhi bola matanya, ketika Alvin akhirnya sadar. Desahan serta senyum lega, terdengar jelas di telinganya.
“Mau minum Vin ?” tawar Iel, yang kini ada di sisi sebelah kirinya.
“Enggak..” sahut Alvin lirih. Ia mencoba mengangkat kepalanya, tapi semua masih terasa berat.
“Jangan di paksain” ujar Rio. Menumpukkan bantal untuk Alvin, agar meski dalam posisi tidur pun, Alvin masih bisa melihat sahabat-sahabatnya itu.
“Kok kalian masih disini ?”
“Vin, kita ini sahabat lo ! enggak mungkin banget tadi kita tetap aja balik ke sekolah, pas ngelihat elo pingsan kaya gitu, udahlah lagian udah jam segini juga, percuma aja balik ke sekolah, bunuh diri yang ada..” cerocos Cakka.
“Sori..” desah Alvin pelan.
“Buat ?” tanya Iel.
“Udah bikin kalian tetap ada disini dan bukannya balik ke sekolah”
“Haha..yang ada juga kita kali, yang bilang makasih, elo udah ngasih kita libur sehari dari pelajaran-pelajaran enggak guna itu”
“Ahh iya, Rio bener. Gue bebas dari matematik sama kimia hari ini, surga banget !” sambung Cakka.
Alvin terkekeh pelan. “Jangan di ulangin lagi, ini terakhir kalinya, kalian cabut dari sekolah, cuma demi gue..”
“Siap bos !” tukas Iel sambil berlagak hormat ke arah Alvin. “Lagian ini kaya nostalgia juga sih, dulu kan smp kita sering banget ngelakuin kaya gini, terakhir kita kaya gini kapan ya ?”
“Awal-awal kelas sebelas, pas gue baru balik dari rumah sakit” sahut Alvin. Ia tidak akan pernah lupa, semua hal yang pernah sahabatnya lakukan untuk dia, meski dengan cara yang tidak tepat, tapi tetap saja, ketulusan di balik itu mampu membuat Alvin dapat membusungka dadanya, membanggakan pada dunia, bahwa ia memiliki sahabat terhebat di muka bumi ini, sukur-sukur hingga ke surga nanti.
“Gimana tadi kaburnya ? emang enggak ditanyain sama satpam ?” kali ini Alvin malah penasaran, apa yang sahabatnya lakukan agar bisa semudah itu keluar dari pagar sekolah mereka. “Atau kalian manjat tembok lagi ?”
“Enggak dong, masa udah mau 2011 gini, masih jaman aja manjet pager, tadi kita pakai cara yang lebih elegan Vin..haha..” jawab Cakka bangga. “Gue berhasil dapetin surat ijin keluar, plus tanda tangan piket hari ini”
“Kok bisa ?” tanya Alvin tidak mengerti.
“Haha..gue gitu..jadi tadi pas gue mau ngelobi satpam, biar ngasih kita ijin keluar, gue ketemu sama Agni, ternyata dia mau ngurusin lomba basket putri di luar, nah ya udah sekalian aja gue minta tolong ke dia, buat sekalian ngambilin surat ijin plus tanda tangannya..canggih kan gue ?” terang Cakka sambil menaik turunkan alisnya.
“Woo..kalau gitu sih, Agni yang canggih, bukan elo..” cibir Rio sambil melayangkan sebuah bantal ke muka Cakka.
“Ahh tetep aja, kalau enggak karena pesona gue, Agni pasti enggak bakal mau ngelakuinnya” sahut Cakka pede, dan kembali melemparkan bantal itu ke arah Rio. Iel dan Alvin hanya bisa tertawa melihat kelakuan dua orang tersebut.
***
Seorang sahabat, tidak akan pernah menjauh seincipun, ketika sahabatnya membutuhkannya.
***
Bel berakhirnya pelajaran terakhir telah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Tapi tiga orang itu masih berkutat dengan pekerjaan baru mereka, yang sama sekali tidak elite, membersihkan kamar mandi sekolah.
“Yel, bagian itu udah gue pel, kenapa elo siram air lagi sih !” protes Cakka.
“Eh ? haha..mana gue tahu Kka, sori deh, ya udah pel lagi sono..” sahut Iel enteng, sama sekali tidak merasa salah.
“Ah elah, elo berdua rame amat dari tadi, kapan selesainya ini ?!” timpal Rio kesal, yang dalam hukuman kali ini, kebagian tugas mengosek toilet.
“Belum selesai juga elo bertiga ?”
“Nah elo Vin, udahan ulangan susulannya ?” bukannya menjawab, Cakka malah melemparkan pertanyaan lain ke Alvin.
“Udah, mana yang bisa gue bantu ?”
“Eits, diem aja lo disitu ! lagian ini hukuman kita bertiga, elo enggak usah ikut campur” perintah Iel.
“Sini ah..” Alvin melepas jaketnya, menggantungnya di pintu, mengambil pel yang ada di tangan Cakka, dan mulai mengepel. “Lagian kalian di hukum kaya gini kan, karena mau nemenin gue..”
“Tapi Vin ...” Rio menatap Alvin, cemas.
“Udah ah, ayo kerja-kerja, biar cepetan beres..”
Tahu, akan percuma saja, jikalau mereka terus melarang Alvin. akhirnya mereka berempat mulai kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Lagipula, sepertinya inilah yang paling pantas di sebut dengan persahabatan. Ada di tempat yang sama, bersama-sama, bukan hanya untuk tertawa, tapi juga untuk letih bersama. Meski di dalam sebuah kamar mandi. 
***
Setelah hampir satu setengah jam, berada di kamar mandi yang pengap serta sempit itu. Mereka berempat kini sedang duduk-duduk di gazebo rumah Alvin, menikmati hembusan angin sore yang menyejukkan.
Selalu seperti ini. Rumah Alvin, dan gazebo ini, seperti telah menjadi markas tetap persahabatan mereka. Dulu, saat mereka sd, mereka sering main disini karena Alvin yang memang tidak di perkenankan untuk main terlalu jauh. Tapi semakin kesini, semakin banyak kenangan yang mereka torehkan disana, semakin tidak dapat dipisahkan juga mereka dari gazebo ini.
“Hahh..” Alvin mendesah, dan agaknya terlalu keras, sehingga semua teman-temannya kini mengarahkan wajah mereka ke arahnya.
“Kenapa Vin ?” tanya Rio, yang duduknya paling dekat dengan Alvin.
Alvin menggeleng sambil tersenyum kecil. Pertanyaan ini, seolah menjadi pertanyaan wajib, yang paling sering Rio, Iel, dan Cakka tanyakan padanya. Pertanyaan biasa, yang selalu terdengar penuh kepanikan dan di ucapkan dengan wajah khawatir oleh teman-temannya. Pertanyaan sederhana, namun berarti bagi Alvin, karena hanya dengan pertanyaan itu, Alvin bisa merasakan ketulusan sahabat-sahabatnya.
“Serius enggak kenapa-napa ?” tanya Rio lagi, ketika tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Alvin.
“Sumpah deh gue baik-baik aja, kan kemarin udah mimisannya, masa sekarang lagi” jawab Alvin enteng.
“Ya enggak gitu juga sih Vin, kita kan cuma khawatir aja sama elo” sambung Iel.
“Iya gue tahu..” tukas Alvin. “Tapi lo semua ngerasa enggak sih, semakin kesini, elo semua sama aja kaya nyokap gue, makin protect sama gue..”
“Enak aja lo ngomong, gue di samain sama nyokap lo lagi” sahut Cakka tidak terima.
“Haha..abisan, dulu lo semua enggak gini-gini amat ah, coba sekarang, dikit-dikit pasti khawatir banget sama gue. Ya iya sih gue tahu, sakit gue emang tambah parah, mau mati malah kayanya ta...”
“Vin ! elo asalan banget sih kalau ngomong !” potong Rio. Ia paling tidak suka jika Alvin mulai menyisipkan kata ‘mati’ dalam kalimatnya. Meski Rio tidak bisa memungkiri itu hal yang paling mutlak dalam hidup ini.
Alvin diam melihat kilat kemarahan di mata Rio. Tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Tapi sampai kapan, semua harus pura-pura menganggap bahwa umurnya akan panjang. Alvin bukan lagi, Alvin yang berusia sepuluh tahun, yang diberi tahu bahwa ia menderita sebuah penyakit dan suatu saat nanti ia akan sembuh. Alvin telah mengerti sekarang, bahwa harapan-harapan itu hanya kosong belaka, menguap di telan waktu.
“Dulu, waktu elo pertama kalinya di rawat, saat itu gue ngeyakinin diri gue sendiri kalau elo itu cuma sakit biasa, sekedar demam, dan bakal sembuh..” Iel tiba-tiba saja bersuara di tengah-tengah keheningan itu.
“Dan gue inget banget waktu itu, waktu gue jenguk elo di rumah sakit, nyokap lo nangis dan nyokap gue meluk nyokap lo. Gue sama sekali enggak ngerti, kenapa nyokap kita harus kaya gitu. Waktu itu gue disuruh masuk sendiri ke kamar rawat lo, dan elo baik-baik aja di mata gue, enggak ada yang salah..sama sekali enggak ada..” Iel melanjutkannya. Menerawang dalam waktu yang telah terlewati dengan susah payah.
“Tapi setelah itu, elo enggak lagi boleh ikut pelajaran olahraga sama upacara, enggak lagi boleh main sepedaan sama kita, dan elo jadi minumin obat setiap hari. Tapi waktu itu gue masih mikir, kalau elo masih dalam penyembuhan, dan emang obatnya harus habis kaya antibiotik yang dokter kasih kalau gue lagi sakit..” tersenyum simpul, Iel mengajak semuanya lebur dalam kisah itu.
“Gue juga inget..” sebelum Iel menyambung kata-katanya lagi, Cakka terlebih dulu membuka suaranya. “Gue juga boleh ngomong kan Yel ?”
“Bolehlah Kka..”
“Inget, waktu itu, kita main, gue lupa kita main apa, tapi yang jelas elo mimisan banyak banget. Terus pas sampai ke rumah lo, gue, Rio sama Iel di ajak ngobrol sama nyokap bokap lo, waktu itu gue kira kita bakal di marahin, ternyata enggak. Bokap lo malah bilang, kita harus ngejagain elo, harus ngingetin elo biar enggak sering capek-capek, dan kalau perlu marah sama elo kalau elo enggak mau di kasih tahu. Waktu itu gue tanya kenapa, tapi bokap lo cuma bilang, suatu hari nanti kita bakalan tahu..”
“Terus waktu itu juga, guru-guru jadi perhatian banget sama lo. Mereka pasti panik banget kalau elo pucet dikit aja, dan jujur ya Vin, gue iri berat sama elo waktu itu. Lo tuh kaya jadi anak emas semua guru, enggak ada yang marah kalau elo enggak masuk, dan elo selalu bisa bebas dari kegiatan-kegiatan yang berhubungan sama fisik..” sambung Cakka lagi, tersenyum kecil, mengingat ia yang dulu paling vokal, menganggap guru-guru berlaku tidak adil.
“Gue juga mau dong..” pinta Rio, seolah saat ini adalah waktunya untuk membagi pengalaman mereka tentang Alvin. Cakka hanya mengangguk. Sementara Alvin, si objek yang dibicarakan sejak tadi, hanya bisa diam mendengarkan.
“Kelas satu smp, gue maksa ke nyokap gue buat ngasih tahu apa penyakit lo, dan akhirnya gue tahu. Jadi saat itu, diam-diam gue udah ngerti sakit apa yang ada di tubuh lo. Gue takut banget waktu itu, dan gue sama sekali enggak ngerti apa yang bisa gue lakuin buat bikin elo tetep tinggal disini sama kita..”
“Sampai akhirnya, pas kelas dua smp, dan elo cerita ke kita, lo sakit apa dan kenapa, dan ngelihat elo bisa tegar kaya gitu, gue pikir kenapa gue enggak bisa. Tapi setegar-tegarnya gue, gue tetep aja ngerasa takut, itu sebabnya mungkin kenapa elo nganggep kita jadi lebih protect ketimbang dulu, karena semakin kesini, gue juga semakin ngerti sama keadaan lo, dan semakin kesini, semakin banyak waktu yang kita berempat laluin jadi kenangan..” Rio menepuk-nepuk pundak Alvin pelan.
“Gue bukan siapa-siapa tanpa kalian” ujar Alvin pelan, memandang temannya satu persatu-satu.
“Gue penyakitan dan lemah. Gue enggak pernah aktif di osis kaya kalian bertiga, enggak bisa juga jadi bintang basket atau olahraga lainnya karena fisik gue yang enggak mengijinkan untuk itu, badan gue terlalu kurus dan pucet buat jadi idaman cewek-cewek cantik di sekolah, otak gue apalagi, satu bulan, bisa ada satu minggu sendiri gue enggak ikut pelajaran,  orang tahu gue, karena gue sama kalian..”
“Enggak gitu juga ah Vin..” sanggah Iel.
“Kaya gitu Yel. Orang kenal gue, oh Alvin temennya Iel yang mpk itu ya, atau Alvin yang suka sama Rio ketua osis itu kan, ehm..Alvin yang sering nemenin ketua basket si Cakka ya..selalu kaya gitu, tapi coba kalau gue sendiri, orang tahunya ya gue yang penyakitan, jarang masuk, tapi selalu sukses naik kelas..” 
“Serius Vin, ada yang bilang gitu ? minta di tampol tuh orang” sungut Cakka sengit.
“Buat apa Kka ? gue enggak peduli. Emang gue kaya gitu kok, emang gue Alvin looser yang ada di antara tiga orang hebat, dan gue enggak keberatan akan hal itu. Yang penting kaliannya mau nerima gue apa adanya, padahal gue suka nyusahin kaya gini, sama sekali enggak ada keuntungannya temenan sama gue”
“Elo ngomong apaan sih Vin ? siapa bilang temenan sama elo enggak ada keuntungannya ? gue bangga punya temen kaya elo, dan akan selalu kaya gitu !” sahut Rio.
“Thanks, kalian emang yang paling the best..”
***
Tidak akan ada perpisahan yang menyenangkan, yang ada hanya doa agar suatu saat dapat berjumpa kembali
***
Deruan nafas yang tidak teratur, rasa sakit yang bagai meremas tulang-tulang secara sengaja, darah yang terus mengalir bagai kran air yang lupa ditutup, dan kesadaran yang perlahan dan demi perlahan tergerus.
“Vin..Alvin..”
Suara itu. Seperti ada tangan yang mengguncang-guncang tubuhnya. Tapi jangankan untuk membuka matanya, bahkan dalam ke adaan terpejam seperti inipun, rasa sakit itu terus saja mendera tanpa ampun. Terus saja memeluknya erat.
“Alvin, lo denger gue kan ? ini gue Rio, Alvin !!”
“ALVIN !! VIN !!”
Dan semua tiba-tiba seperti diam. Berhenti. Tidak ada lagi suara, sama sekali tidak. Tapi rasa sakit itu masih saja tersisa. Membuat seluruh tubuhnya terasa berat.
***
Doa dan lantunan harapan, bergaung terus menerus di dalam hati mereka. Tangan-tangan di angkat, menengadah, meminta kepada Ia, satu-satunya Zat yang paling berkuasa atas segala kuasa di alam ini.
Ini bukan untuk pertama kalinya. Sudah berpuluh-puluh kali, mereka pernah ada di kondisi yang sama seperti ini. Menanti tanpa harapan yang pasti. Berharap masih ada satu hari atau malah lebih, untuk di tambahkan pada umur Alvin.
Tangan Rio bergetar hebat. Bayangan wajah pucat Alvin, dan darah yang terus keluar dari lubang hidungnya, terasa terus berkelebat di pikirannya. Rio benar-benar tidak menyangka akan menemukan Alvin dalam keadaan seperti itu. Ia memandangi ujung kaosnya, yang penuh bercak darah.
“Dia pasti baik-baik aja Yo..” ujar Iel yang duduk di sebelahnya, meski gurat kecemasan juga terpeta jelas di wajahnya.
“Alvin kuat, kita harus percaya sama dia” timpal Cakka.
Kedua orang tua Alvin tersenyum tipis, melihat bahwa anak mereka, memiliki sahabat yang tidak sedetikpun pernah berniat untuk pergi, meski keadaannya seperti ini. Bukankag itu suatu yang patut di banggakan ?
 Seorang dokter keluar dari kamar perawatan Alvin, yang langsung mereka hampiri. “Kalian semua di tunggu oleh Alvin di dalam”
“Sudah, kalian bertiga aja yang masuk duluan, om sama tante biar ketemu sama dokter dulu” bujuk papanya Alvin.  ketiga orang itu mengangguk, dan segera masuk ke dalam kamar Alvin.
“Hei..” sapa Alvin parau, mencoba tersenyum di balik masker oksigen yang menyelubungi wajahnya.
“Lo bikin gue takut Vin” sahut Rio.
“Gue masih ada disini” ujar Alvin pelan. “Untuk beberapa waktu..” sambungnya lirih.
“Berhenti ngomong, seolah-olah lo mau mati besok” celetuk Iel datar, menatap Alvin memohon.
“Kita kenapa sih ? jangan pada kaya gini ah lo semua, kitakan harusnya seneng, Alvin udah sadar” Cakka mencoba untuk tidak ikut terpengaruh pada suasana, yang entah kenapa terasa begitu suram ini.
“Gue pengen kita ngeband lagi”
“Apa Vin ?” tanya Cakka, yang agak kesulitan mendengar perkataan Alvin.
“Ngeband, gue mau ngeband lagi..” ulang Alvin.
“Iya, entar kalau elo udah keluar dari sini, kita ngeband lagi” jawab Iel. Layaknya seorang ayah, yang menjanjikan sesuatu pada anaknya.
Dan semua tiba-tiba saja diam. Duduk mengelilingi Alvin. Namun meski tanpa kata-kata, semua terasa tersampaikan, rasa sayang itu, kepedulian itu, aroma persaudaraan yang kental. Semuanya, begitu terasa.
***
Semua saling berbisik-bisik. Tidak mengerti, mengapa harus di kumpulkan di aula sekolah siang-siang begini. Dan segala kasak-kusuk itu kian menjadi-jadi, ketika Alvin, Rio, Iel dan Cakka keluar ke atas panggung dan mengambil alat musik masing-masing.
“Siang semuanya..” sapa Alvin, yang kali ini bertindak sebagai vokalis.
“Maaf kalau gue ganggu waktu belajar kalian, oh ya by the way, kalian kenal enggak ya sama gue ? kalau sama, yang ada di belakang, pasti kenal semua doang, ada Rio, Cakka dan Iel. Gue sendiri Alvin, angkatan 28, dari 12 ips 1, mungkin banyak yang enggak kenal gue karena gue jarang masuk, tapi sekali ini aja, gue pengen ngasih sesuatu buat sekolah ini..”
Cakka yang ada di balik drum, Iel yang memegang Bass serta Rio dengan gitarnya, menatap Alvin lirih. Hanya ini yang bisa mereka bertiga lakukan, memohon kepada sekolah, agar bersedia mengijinkan untuk acara kecil ini. keinginan mereka hanya satu, hanya ingin, Alvin tidak hanya menorehkan kenangan di hati mereka bertiga, tapi juga di seluruh sekolah ini.
Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi
Suara Alvin yang sedikit serak, entah mengapa terasa mengirisi ulu hati Cakka, Rio dan Iel. Belum lagi lagu pilihan yang Alvin pilih ini.

Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua

Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti...

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian
“Prokkk....prokkk..”
“Makasih semuanya..” untuk pertama kalinya, Alvin merasa ia bisa melakukan sesuatu, tidak hanya bergantung pada orang lain. Tapi rasa bangga sesaat itu, tiba-tiba saja berganti menjadi rasa sakit yang tidak tertahankan, dan semua kembali gelap. Benar-benar gelap.
***
Titik-titik air mata, masih saja menetes meski hanya satu-satu. Tidak ada yang akan tetap berdiri tegak, ketika sahabat terbaik akhirnya pergi. Semua akan terasa pekat dan gelap. Dan mungkin akan berlangsung untuk beberapa waktu. Tapi siapa peduli. Yang terbaik yang pernah ada di hidupmu baru saja pergi. Kamu berhak untuk menangisinya.
Bukan cengeng. Bukan juga lemah. Ini hanya fase kehidupan, manusiawi.  Setidaknya percayalah, kamu telah memberikan semua yang terbaik yang kamu punya, untuknya, yang kamu bilang sahabat.
Dan saat kamu meyakini, bahwa ia telah cukup bahagia, maka lepaskanlah, karena percuma saja terus menahannya. Sahabat terbaik datang untuk menemani langkahmu. Jadi teruslah pegang itu, meski ia pergi, kakinya tidak akan pernah beranjak jauh dari tempatmu.
Yang terbaik, adalah ia yang datang, untuk siap kamu bagi dengan segala dukamu, dan tidak pernah dendam saat kamu lupa membagi tawamu untuknya.
***
Kisah biasa kan ?
Hanya tentang persahabatan.
Persahabatan yang indah. Namun tetap saja, hanya sebuah..
Cerita biasa..
TAMAT.
Fyi, lagunya sebuah kisah klasik by sheila on7
Makasih.