Tampilkan postingan dengan label Destiny in Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Destiny in Love. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2011

Fearless of Love 2 : Destiny in Love part 12

Yang mau baca dari part satu, bisa klik di sini
***
Alvin melihat sekelilingnya, semuanya putih, dan penuh cahaya terang, badannya terlalu ringan. Dia tidak pernah merasa melihat tempat seindah ini. Ragu-ragu ia melangkahkan kakinya, rasa penasaran menguasai hatinya.
'gue dimana, apa gue udah mati ?' tanya alvin dalam hati.
"Hai vin.." alvin takjub sekaligus seneng ngelihat orang yang menyapanya.
"Iel ?"
"Iya bro, ini gue"
"Gue udah mati yel ?"
"Alvin sayang" ketakjuban alvin bertambah melihat orang yang tiba-tiba berdiri di sampingnnya iel.
"Mama.." panggil alvin lirih dan langsung memeluk mamanya, dan ini semua terasa nyata.
"Alvin udah mati ma ?" alvin kembali mengulangi pertanyaan yang sama. Mamanya melepas pelukan alvin, dan tersenyum ke arahnya.
"Kak alvin, aku sayang banget sama kakak, tapi aku enggak mau ngeberatin kakak, aku cuma mau bilang, aku ikhlas, sekarang semuanya terserah kakak, aku cuma mau yang terbaik buat kakak" alvin tahu banget itu suara aren, tapi dia tidak menemukan aren, hanya suaranya saja yang terasa begitu jelas. Alvin memandang mamanya dan iel dengan bingung.
"Salam buat oma sama papa ya, salam juga buat aren, bilangin makasih karena udah bikin jagoan mama jadi lebih baik.."
"Salam buat anak-anak ya bro, dan tolong bilang ke via, gue setuju sama pilihannya, gue tahu dia akan menjaga via buat gue, via dan dia sendiri.."
"Gue belum mati ?" alvin bertanya dengan nada putus asa, tapi mamanya sama iel malah berjalan menjauh dari tempatnya, meninggalkannya sendiri di tengah keadaan yang tidak dapat ia terima dengan akal sehatnya.
Sudah lebih dari dua minggu, dan alvin belum sadar dari komanya, dokter sudah mulai memberikan kemungkinan-kemungkinan terburuk tentang kondisi alvin. Hari ini semua berkumpul lengkap di kamar alvin, mereka berdoa bersama, isi doa mereka bukan lagi untuk mengharapkan kesadaran alvin, tapi lebih kepada jalan terbaik yang Tuhan ingin berikan buat alvin.
"Kata dokter, alvin hanya hidup karena bantuan dari alat yang menempel di tubuhnya" papanya alvin bercerita lirih, mengenai pertemuannya barusan dengan dokter.
"Ja..jadi kalo alat-alat itu di lepas ?" tanya oma, walaupun semua tahu jawabannya.
"Bagaimana menurut kalian semua ?" papanya alvin sangat menghargai pendapat teman-temannya alvin, tidak ada yang berbicara, meski semua tahu apa yang ingin mereka keluarkan, tapi tidak ada yang sanggup untuk mengatakannya.
"Aren cuma pengen yang terbaik untuk kak alvin apapun itu, aren enggak tega kalo terus-terusan lihat kak alvin kaya gini" aren berusaha tegar, akhir-akhir ini keadaan emosinya mulai membaik, ia mulai menyemangati dirinya, alvin dan orang lain.
"Aren cuma mau minta satu, aren mau ngobrol berdua sama kak alvin, berdua aja, setelah itu terserah om sama oma" mereka semua memandang aren lirih, tapi aren tetap berusaha tersenyum. Merekapun menuruti permintaan aren, meninggalkan aren dengan alvin hanya berdua.
Aren duduk di samping alvin, di usapnya lembut tangan alvin, di kecupnya dahi alvin, selang-selang yang menempel di tubuh alvin, tidak ia hiraukan, aren meletakkan kepalanya di dada alvin. Hal yang selalu alvin lakukan, kalo aren lagi sakit. Aren mengeluarkan ipod alvin, memakaikan sebelah headsetnya ke alvin dan sebelah satunya ke dirinya sendiri. Aren memutar semua lagu favorit alvin yang ada di situ. Aren terus tersenyum, senyum yang selalu jadi idola alvin.
"Kak alvin, aku sayang banget sama kakak, tapi aku enggak mau ngeberatin kakak, aku cuma mau bilang, aku ikhlas, sekarang semuanya terserah kakak, aku cuma mau yang terbaik buat kakak" aren membisikkan kata-kata itu lembut di telinga alvin, dia melepas ipodnya. Mengusap pipinya alvin, dan air matanya menetes, jatuh tepat ke tangan alvin. Buru-buru aren menghapus air matanya, dan menghapus air matanya yang jatuh ke tangan alvin, tepat ketika jari-jari alvin mulai bergerak.
"Kak alvin ? kak ? Dokter !!" aren langsung berteriak memanggil dokter. Semua yang dari tadi menunggu di luar, langsung masuk ke dalam, panik denger teriakan aren.
"Ren, kenapa ?"
"Kak alvin, tadi tangan kak alvin gerak, tadi aku lihat tangan kak alvin gerak" jelas aren cepat. Semua langsung ngerubung tempat tidur alvin.
"Permisi, ada apa ya ?"
"Tadi saya lihat tangan kak alvin gerak dok"
"Harap semuanya keluar dulu, biar saya periksa kondisi pasien" semua mematuhi perintah dokter dan menunggu dengan cemas. Papanya alvin enggak berhenti mondar-mandir di depan pintu kamar alvin, begitupun yang lainnya. Dan mereka langsung menghampiri dokter, yang baru keluar dari kamarnya alvin.
"Gimana dok ?" bukannya jawab pertanyaan papanya alvin, dokter tersebut malah menjabat tangan papanya alvin.
"Selamat pak selamat, ini semua mujizat, luar biasa" semua mengerti maksud ucapan dokter, tanpa aba-aba mereka langsung masuk kembali ke ruangan alvin. Dan mendapati alvin sedang tersenyum kepada mereka, tidak lagi terpejam.
"Kak alvin !" aren langsung memeluk alvin, meluapkan semua rasa gembiranya. Shila, via, agni, dan oik juga berpelukan. Riko, rio, obiet dan cakka menatap alvin lega.
"Hai semuanya.." sapa alvin sambil terus ngacak-ngacak rambut aren dengan sebelah tangannya.
"Gila lo ya, lama banget lo sadar" timpal cakka dengan nada jengkel, tapi mukanya seneng.
"Emang gue koma berapa lama ?"
"Dua minggu dua hari" jawab obiet kalem. Alvin melongo, enggak nyangka sendiri. Tapi kemudian dia inget.
"Pa, oma dapat salam dari mama" enggak cuma papa sama mamanya yang gantian melongo natap alvin tapi yang lain juga.
"Mama juga titip salam buat kamu ren, dan iel titip salam buat kalian. Dia bilang, dia setuju sama pilihan lo vi, dia yakin pilihan lo bakal ngejagain lo" alvin mengatakan semuanya, takut keburu lupa.
"Kamu ketemu mama vin ?" tanya papanya yang enggak bisa menutupi muka leganya.
"Iya pa, alvin enggak tahu itu dimana, tapi alvin ketemu mama sama iel. Oh, ya vi emang lo pilih apa ?" alvin mengalihkan pandangannya dari papanya ke via. Via cuma senyum-senyum aja, tapi alvin langsung paham waktu ngelihat rio menggenggam tangan via.
"Ren, aku denger suara kamu, suara kamu yang bilang kalo kamu ikhlas, yang malah nuntun aku buat balik lagi" kata alvin tulus, aren cuma tersenyum lebar.
Sebulan berlalu semenjak kejadian itu. Alvin sudah benar-benar pulih, dan hari ini adalah hari pengumuman kelulusan bagi siswa-siswi kelas dua belas. Semua murid di bariskan di aula, sementara orang tua murid kelas dua belas duduk rapi ikutan degdegan menunggu hasil.
"Baiklah anak-anak semua yang bapak banggakan, serta guru-guru dan para orang tua murid yang saya hormati, setelah melewati berbagi tahap, akhirnya hari ini, bersama-sama kita akan melepas angkatan 37. Kita semua patut berbangga, karena sekolah kita sukses lulus seratus persen.." aula langsung ramai oleh teriakan senang dan histeris dari para siswa, ada yang berpelukan, ada yang tos-tosan, ada yang lempar-lempar topi.
"Mohon ketenangannya.." sambung kepala sekolah, dan sebagai siswa-siswai yang baik mereka pun nurut.
"Selain itu, ada murid dari sekolah kita yang menjadi peringkat satu nasional dengan nilai ujian nasional terbaik, kepada saudara alvin jonathan sindunata, harap naik ke podium" semua orang kembali tepuk tangan riuh, langsung tengok kanan kiri mencari alvin.
"Alvin jonathan harap naik ke atas podium.." ulang kepala sekolah lagi. Semua orang ngelihatin alvin.
"Vin, maju ke depan !" teriak obiet sambil nyenggol alvin, alvin yang dari tadi nunduk ke bawah kaget, dan melepas ipodnya.
"Hah apaan ? lho, kok pada lihatin gue ?" alvin bingung sendiri.
"Aduh alvin, kita garing nih nungguin lo maju ke depan" kata obiet lagi sambil dorong alvin keluar dari barisan, alvin yang masih bingung, pasrah aja, maju ke depan dan naik ke atas podium, tambah bingung lagi waktu kepala sekolahnya menjabat tangannya.
"Pak maaf, saya kenapa ya ?" alvin bertanya sambil berbisik ke kepala sekolahnya, kepala sekolahnya gantian ngelihat alvin bingung.
"Kita persilahkan untuk alvin sebagai peringkat satu nilai terbaik ujian nasional untuk menyampaikan satu dua patah kata" kata kepala sekolahnya setengah jengkel, tapi itu cukup bikin alvin paham.
"Oke, saya cuma mau bilang makasih buat papa, oma sama mama yang saya yakin lagi lihat saya dari atas sana, buat obiet, rio, riko, cakka, via, shila, oik, agni dan iel yang selalu nyuport dan ada saat saya butuh, buat aren yang senyumnya selalu bikin semangat saya nambah berkali-kali lipat, terimakasih juga buat bapak ibu guru yang udah bimbing saya, sekali lagi makasih" semuanya kembali tepuk tangan. Alvin langsung menghampiri teman-temannya, setelah dia sibuk menerima ucapan selamat sana sini.
"Buset dah, pegel deh tangan gue" gerutu alvin sambil menenggak sebotol aqua yang di sodorkan aren.
"Resiko lo vin, tapi gue sih enggak heran. Yang bikin gue shock, kenapa si riko bisa ada di peringkat 7 besar tingkat sekolah" celetuk cakka sambil melirik riko.
"Kenapa lo ? enggak suka" timpal riko.
"Heran aja ko, lo dapet bocoran darimana waktu un ?"
"Najis lo cak, itu hasil gue murni, gurunya kan alvin" kata riko sambil nepuk-nepuk alvin.
"Kan lo udah dapet nilai bagus tuh ko, gue masih penasaran tapi, apa hubungannya sama shila ?" tanya alvin. Riko pun langsung menjelaskan perjanjiannya dengan papanya shila, shila cuma mesem-mesem aja.
"Untung aja ya ko, lo peringkat tujuh, shila lima, coba enggak ? bye bye dah lo berdua" kata oik jahil.
"Jadi sekarang resmi balikan lagi nih ?" tanya via.
"Gue sih ikut aja sama riko, gimana ko ?"
"Ya iyalah, bisa gila setengah sedeng bin sarap gue enggak ada shila"
"Lebai lo !" teriak yang lain kompak sambil nimpuk-nimpukkin riko pake kacang sukro milik agni.
"Via, semuanya selamat ya.." semua noleh ke arah suara yang manggil dan langsung terdiam kecuali rio yang enggak kenal sama tante-tante di depannya ini, dia juga bingung waktu via melepaskan genggaman tangannya.
"Tante, ada perlu apa ?" tanya alvin menyadarkan semuanya.
"Tante cuma mau kasih ini" alvin menerima sebuah amplop dengan tatapan bingung.
"Ini titipan iel, dia udah berhasil paksa tante buat ngasih surat ini, tepat di hari kelulusan kalian, tante enggak bisa lama-lama, tante pulang dulu ya" rio langsung paham, kenapa cuma dia yang enggak tahu itu mamanya iel dan kenapa via langsung melepaskan genggaman tangannya. Alvin menatap teman-temannya, semua mengangguk menyuruh alvin untuk membuka itu. Alvin membukanya dan menemukan secarik kertas dengan tulisan iel yang sangat di kenalnya, pelan-pelan ia membaca surat itu.
Hai semua..
baik-baik kan ? selamat yaa !! udah jadi anak kuliahan nih sekarang..
gue bangga sama kalian, walaupun gue enggak bisa ikut buat ngerayain hari kelulusan ini, tapi gue tetap bakal tersenyum senang kok dari tempat dimanapun gue berada sekarang..
enggak terasa ya, udah lama, gue emang sengaja pengen ngasih surat ini tepat di hari kelulusan, anggep aja ini simbol dari gue biar gue juga bisa ikut ngerayainnya..
Riko, Alvin, Cakka, Obiet, Oik, Shila, Agni dan Via
makasih ya kalo kalian terus ngenang gue dengan indah..
Via, lo udah nemuin pengganti gue belum ?? kalo udah, selamat ya, gue yakin dia yang terbaik, kalo belum, ayo dong vi, life must go on..
Alvin lo udah jadian sama aren ? tebakan gue sih udah, masih langgeng kan ?
Riko-shila, baik-baik aja kan lo berdua ?
Obiet-oik, masih saling melengkapi satu sama lain kan ?
Cakka-agni, enggak pernah berantem lagi kan ?
gue harap kalian baca ini dengan senyum, sampai ada yang nangis, gue gentanyangin lho..hahaha
oke deh, good luck, selamat menempuh jalan baru buat kalian semua..
your brother
Gabriel
setelah alvin selesai membaca surat itu, semua langsung kompak menatap ke atas, mempersembahkan senyum termanis mereka buat sahabat terbaik yang akan selalu ada di hati mereka masing-masing.
Bandara Soekarno-Hatta.
Mereka mau melepas obiet yang harus segera berangkat ke Jepang, oik terus-terusan menghapus air mata yang turun perlahan di pipinya.
"Oik, jangan kaya gini dong, bikin aku berat aja" bujuk obiet.
"Kalo bisa aku berhentiin juga udah aku lakuin dari tadi" kata oik.
"Haha, udah-udah lo berdua kaya sinetron aja" timpal cakka, yang langsung di pelototin sama obiet dan oik.
"Gimana kalo kita makan dulu ?" tawar via ke teman-temannya, yang cuma di bales anggukan dan mereka langsung masuk ke sebuah restaurant cepat saji.
"Enggak terasa ya biet, lo udah mau ke jepang aja" ujar riko.
"Iya, abis ini kita bakal sibuk masing-masing nih, paling gue sama alvin masih bisa bareng, secara kita sama-sama ngambil kedokteran, masih bisa ketemu via juga yang ngambil fak. masak" lanjut shila.
"Gue, cakka sama agni masih bisa ketemu kok, bisa bareng terus malah" sahut rio, karena emang mereka memilih fak.musik di universitas yang sama.
"Oik ngambil broadcast dan gue advertising, masih satu lingkunganlah, gampang ketemunya" sambung riko lagi.
"Aduh aren jadi enggak enak nih, masih sma sendiri" celetuk aren yang dari tadi kaya di kacangin denger orang pada sibuk ngerancang masa depan.
"Haha, tenang ren, aku masih bakal tetap jadi supir pribadi kamu kok setiap hari, ini semua namanya apa ya ?" balas alvin.
"Hah apaan ? ini burger vin" tunjuk cakka ke burger yang emang lagi di makan alvin.
"Yee, gue juga tahu ini burger. Maksud gue, kita ini temenan dari tk, banyak yang kita laluin sama-sama, dari yang sedih pas iel ninggalin kita sampai ada rio yang sekarang ada bareng-bareng sama kita" jelas alvin panjang.
"Oh kirain, ehm..takdir.." jawab cakka.
"Destiny" timpal rio enteng.
"Sama aja tauk" sahut yang lainnya kompak.
"Haha, nanti gue di jepang pasti kangen lihat kalian kaya gini" kata obiet sambil senyum.
"Siapa suruh jauh-jauh amat sekolah" ujar oik, obiet melirik ke oik.
"Haha, bercanda biet, aku rela banget kok, kan ini buat kebaikan kamu.." sambung oik lagi.
"Kalo ini soal takdir, berarti gue harus sangat-sangat berterimakasih karena takdir gue masih ngasih gue satu kesempatan hidup lagi dan lihat senyumnya aren"
"Dan aren masih bisa bareng-bareng kakak" aren menyambung kata-kata alvin.
"Takdir akhirnya bikin via luluh dan minta gue tembak.." kata rio.
"Dan bikin gue bisa terus jalanin hidup yang baru" sahut via.
"Bisa bikin kita berdua balikan lagi" kata riko dan shila kompak.
"Bisa bikin gue sama agni tetap adem ayem aja.."
"Tanpa ada masalah yang berat-berat amat.." giliran cakka sama agni enggak mau kalah.
"Ya walaupun takdir bikin gue pisah sama obiet, tapi gue udah seneng banget bisa jadi orang yang akan selalu nyuport obiet dimanapun dia" ujar oik.
"Gue enggak peduli ini takdir atau nasib, yang penting gue bahagia dan bersyukur punya sahabat kaya kalian dan punya cewek kaya kamu ik" kata obiet tulus.
Obrolan itu terus berlanjut, mereka tahu hidup masih panjang, dan enggak akan ada satupun yang bisa menebak takdir. Semua yang harus terjadi akan terjadi dengan caranya, entah itu bahagia atau kesedihan, tapi takdir akan selalu membawa orang maju ke depan dan membimbing untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
TAMAT

Fearless of Love 2 : Destiny in Love part 11

Ujian Nasional untuk tingkat SMA baru saja berakhir, disusul oleh serangkaian ujian praktek dan ujian sekolah. Otomatis hampir satu bulan, alvin dan aren tidak lagi sering menghabiskan waktunya bersama-sama. Dan hari ini, adalah hari terakhir ujian sekolah, yang artinya gerbang kebebasan untuk mereka yang sudah enek belajar. Aren udah nunggu di kantin sekolahnya, hari ini dia emang masih libur, tapi mereka semua udah janjian buat jalan bareng setelah pulang sekolah. Aren mendengar bel berbunyi, dengan segera dia berjalan menghampiri ke ruangan ujian alvin.
"Aren ?" alvin reflek meluk aren yang udah beberapa hari ini enggak dia ketemui, arennya sih cuma senyum-senyum aja, seneng.
"Hehe, malu kak, lepasin dong.."
"Kamu kok kesini, kan janjinya aku jemput ?"
"Daripada bolak-balik, kan mending aku yang kesini. Oh iya, gimana kak, lancar kan tadi ?"
"Dia sih enggak usah di tanya ren, pasti lancar" kata cakka, yang udah berdiri di situ sama yang lainnya.
"Eh ini, aren bawain kue buat kakak-kakak semua" aren mengeluarkan kue-kue dengan bentuk-bentuk lucu yang udah dia hias dengan dengan gambar-gambar dan tulisan unik, semuanya menerima kue pemberian aren dengan senang hati.
"Bola basket, ciayo kak cakka, sukses nyontek enggak ^-^" cakka membaca kue miliknya sambil menunjukkan gambarnya, dan tertawa sendiri.
"Sukses kok ren, pengawasnya baik" kata cakka lagi, semuanya tertawa.
"Suntikan, jadi dokter yang hebat ya kak shila" lanjut shila.
"Bendera jepang, aren minta tanda tangannya sekarang deh, entar kayanya susah" obiet tersenyum sendiri membaca miliknya.
"Cake, ajarin aren bikin seenak punya kakak dong" giliran via baca punyanya.
"Gitar, wuaa kak agni, kapan ya aren bisa main gitar ??" timpal agni.
"Buku, gimana hasil privat gratisnya kak" sahut riko.
"Radio, kak oik cocok jadi penyiar radio, jangan ngambekan ya" oik melirik ke aren, arennya cuma senyum-senyum aja.
"Love, ayo kak semangat terus, buat semua hal !!" rio paham maksud adeknya.
"Bintang, makasih ya kak, udah jadi bintang paling bersinar buat aren. Yang ada juga kamu ren yang jadi bintang buat aku" kata alvin sambil ngacak-ngacak rambutnya aren.
"Makasih ya ren, lucu nih, gue sayang makannya" timpal shila.
"Haha, aren bikin buat di makan kak, bukan buat pajangan"
"Ya udah ayo ah jalan, keburu sore" ajak riko. Semua temen-temennya langsung nurut. Alvin-aren naik mobil berdua, riko-shila juga sama, sementara obiet-oik, cakka-agni, dan rio-via goncengan di motor masing-masing.
"Kak, di pake dong sabuk pengamannya"
"Aduh ren, ribet nih lagi nyetir"
"Kak.."
"Iya-iya, bentar.." alvin berusaha meraih sabuk pengaman dengan tangan kananya, sementara tangan kirinya memegang kendali stir. Tapi karena keseringan enggak dipakai, sabuk pengamannya jadi susah di tarik, alvin masih terus usaha narik sambil nengok-nengok ke arah sabuk pengamannya, membagi konsentrasi menyetirnya.
"Kak alvin awas !!" semua terjadi dalam hitungan kurang dari satu menit, gara-gara sebuah kucing yang tidak disadari oleh alvin, alvin langsung reflek membanting stir mobilnya ke kiri, dan karena kaget, alvin bukannya nginjak rem, tapi malah nginjak gas. Mobilnya oleng, dan berputar beberapa kali, terhenti ketika bagian depannya meringsek tanaman-tanaman pinggir jalan.
Semua terdiam melihat kejadian itu, mobilnya riko yang tepat berada di belakang mobilnya alvin, langsung ngerem mendadak, tapi riko sama shila masih terpaku di tempat duduk mereka menyaksikan kejadian naas yang menimpa sahabat mereka di depan mata mereka sendiri. Begitupun cakka-agni, obiet-oik, dan rio-via.
"A..aren.. !" rio langsung turun dari motornya setelah menyadari apa yang terjadi. Dia berlari menuju mobil alvin yang mengeluarkan asap. Aren memegang dadanya, dia masih dalam posisi yang sama, terikat di tempat duduknya, hanya dahinya sedikit berdarah akibat benturan ke dashboard.
"Ren, aren" rio melepas sabuk pengaman aren, aren masih diam terpaku, napasnya satu-satu.
"Kak..hah..kak..hah..alvin.." aren berusaha ngomong, tapi dunianya langsung gelap seketika. Riko, cakka dan obiet berlari ke arah alvin, yang terlempar ke jalan, darah merembes banyak dari belakang kepalanya.
"TOLONG ANGKAT DIA KE MOBIL GUE !!" teriak riko panik melihat kondisi sahabatnya. Dibantu oleh obiet, cakka, dan beberapa orang, mereka bersama-sama mengangkat alvin ke mobilnya riko. Sementara rio masih menggendong aren.
"Yo, lo bisa bawa mobil kan ?" tanya riko, rio cuma mengangguk lemah.
"Lo yang bawa oke, gue biar bawa motor lo, via lo ikut rio, pegangin aren" via yang juga enggak kalah kacau keadaannya nurut aja apa kata riko, begitupun rio. Mereka langsung menuju rumah sakit terdekat.
Rio menggenggam tangan aren erat, adeknya emang enggak kenapa-kenapa. Sebuah mujizat memang, aren baik-baik saja, hanya saja dia shock, dan penyakit asmanya, membuat kondisi tubuhnya kurang stabil.
"Kak...rio.." panggil aren lirih.
"Iya ren, ini kakak, kakak panggilin dokter ya"
"Kak alvin mana ?" aren melihat sekeliling, hanya ada rio disitu, padahal ia ingin melihat alvin. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi dengannya, berusaha mengingat kejadian sebelum ini.
"Kak, tadi aren teriak waktu kak alvin mau nabarak kucing, terus..." aren melihat rio, alvin yang membanting stir, mobil yang berputar, benturan saat mobil menabrak tanaman, semuanya langsung berputar cepat di mata aren, bagai film yang di putar ulang.
"Ssstt, aren jangan nangis" rio bingung waktu ngelihat aren nangis.
"Aren mau kak alvin !" aren melepas selang oksigen yang menempel di hidungnya dan selang infus di tangannya, rio tahu dia tidak akan bisa mencegah aren. Rio malah membantu adeknya turun dari ranjang dan menuntunnya ke ruangan yang dia mau.
Riko, cakka, obiet, shila, oik, agni, dan via duduk di depan ruang operasi. Mereka masih menunggu kepastian yang entah kapan datangnya. Ini semua terasa bagai de javu bagi mereka, hanya saja dulu mereka menunggu iel dan ada alvin, kini yang di tunggu malah alvin. Dan beberapa jam yang lalu, mereka bahkan masih tertawa bersama.
"Ren udah baikan ?" via berjalan menghampiri aren yang di papah sama rio, aren cuma tersenyum. Rio mendudukannya di sebuah kursi, dan aren langsung menyandarkan kepalanya ke pundak rio. Via yang mengambil tempat di sisi lainnya aren, menggenggam erat tangan aren yang terasa begitu dingin.
"Riko, gimana alvin ?" shila, oik dan agni langsung menghampiri omanya alvin yang baru datang dan terlihat begitu shock. sementara riko, cakka dan obiet berusaha menjelaskan kondisi terakhir alvin yang mereka ketahui kepada papanya alvin.
Semuanya diam tenggelam dalam kekalutan masing-masing, berusaha menenangkan satu sama lain. Pandangan aren masih kosong, belum ada yang berhasil membujuknya untuk kembali ke kamar perawatannya. Sudah hampir tiga jam berlalu saat lampu tanda operasi akhirnya mati, dan terlihat seorang dokter berjalan keluar ruangan. Semua langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut, tidak terkecuali aren.
"Gimana keadaan anak saya dok ?"
"Sebaiknya bapak ikut ke ruangan saya" papanya alvin melihat ke arah temen-temen anaknya.
"Disini aja dok, mereka juga berhak tahu"
"Baiklah, kami sudah berusaha mengoperasi dan mengeluarkan gumpalan darah yang ada di otaknya akibat benturan yang cukup keras, bisa di bilang operasi tadi cukup berhasil, sekarang tinggal bagaimana pasien bisa bertahan dan melewati masa kritisnya, itu semua tergantung kondisi pasien dan takdir Tuhan, kami sudah melakukan yang terbaik"
"Terimakasih dok" papanya alvin berusaha tegar sambil menjabat tangan dokter tersebut. Aren langsung memeluk kakaknya, air matanya terasa kering, rio membelai lembut pundak adeknya. Shila, oik, agni dan via kompak memeluk omanya alvin yang juga udah kaya oma mereka sendiri. Sementara riko, cakka, dan obiet hanya memandang lirih, sambil terus melantunkan doa di hati mereka masing-masing.
Alvin sudah di pindahkan ke sebuah kamar, dan aren masih setia nungguin. Dia sama sekali enggak mau beranjak dari sisinya alvin. Rio baru aja pulang, mau ngambil perlengkapannya aren. Omanya alvin juga udah pulang di antar riko dan shila. Obiet, oik, cakka, dan agni juga mutusin buat pulang dulu ganti baju. Cuma ada via di ruangan itu selain aren dan alvin. Papanya alvin dengan berat hati, harus tugas ke luar kota, dan berjanji untuk segera kembali.
"Ren makan dulu nih" via kembali membujuk aren buat makan, sambil menyodorkan sebuah biskuit yang dari tadi sengaja di beli oleh rio.
"Enggak bisa kak" jawab aren lirih.
"Ren, kakak tahu banget rasanya, kakak masih inget dengan jelas, saat dulu kakak nungguin iel, tapi ayolah, alvin pasti enggak pengen lihat lo kaya gini" aren menoleh ke via yang duduk di sampingnya, dengan ragu-ragu dia mengambil sepotong biskut dan memakannya dalam diam. Via juga jadi ikutan diam. Keheningan itu terus tercipta, paling hanya ada suara via yang sesekali bergumam kecil, sekedar menenangkan aren dan hatinya sendiri.
"Sori lama.." kata rio sambil masuk ke dalam kamarnya alvin, via menoleh dan tersenyum ke rio. Rio menatap aren iba, dia mengambil selimut yang ada di tas yang dibawanya dari rumah, dan langsung menyelimuti aren. Via memandang itu dengan tatapan yang cukup susah di artikan.
"Udah makan vi ? gue bawa nasi sama lauk tuh dari rumah, makan dulu gih" tawar rio ramah. Via beranjak, memberikan tempat duduknya, untuknya rio. Rio kembali membelai lembut punggung aren, mencoba memberi sedikit energi pada adek tercintanya itu.
Via mengeluarkan kotak makanan yang rio bilang, perutnya emang lapar banget. Sebentar-bentar ia mengalihkan matanya ke rio.
'lo kakak yang hebat yo, gue kagum sama lo' batin via sambil terus mengunyah makanannya.
"Gimana alvin ?" tanya riko yang baru datang.
"Masih belum ada perkembangan" jawab rio. Riko menatap sahabatnya sebentar, kemudian duduk di sofa samping via.
"Lo belum pulang vi ? mau gue anter ? malam ini biar gue, rio sama aren yang jagain alvin, tadi gue udah sms obiet sama cakka ngasih tahu biar mereka kesininya besok aja, shila malah nginep di rumah alvin nemenin oma" jelas riko.
"Bentar lagi supir gue jemput kok, gue udah telpon tadi, nanti kalo sempet gue mampir ke rumah alvin" via membereskan barang-barang alvin bawaan riko, titipan dari omanya alvin.
"Eh, gue udah di jemput nih, gue balik duluan ya, ren gue balik ya" kata via setelah membaca sms di hpnya. Rio dan riko mengangguk, dan aren hanya tersenyum.
Aren tertidur di samping alvin, kepalanya terkulai di tempat tidur alvin dan tangannya masih menggenggam erat tangan alvin. Rio dan riko hanya bisa menatap itu dengan tatapan nanar.
Sudah tiga hari berlalu dan keadaan alvin masih sama, belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Selama itu juga aren enggak berniat pergi kemanapun, dia enggak sekolah, susah makan, kerjaannya cuma ngelamun, semua sampai enggak ada yang tega lihat aren yang jadi lebih keliatan kaya mayat hidup.
"Aren jangan kaya gini terus dong" siang ini, cuma ada shila, via, agni dan oik yang dapat giliran nungguin alvin.
"Terus aren harus gimana kak via ?"
"Dengerin gue ya, dulu pertama gue lihat iel di rawat di rumah sakit, gue tahu tentang penyakitnya, gue nangis enggak berhenti-henti, sebelas duabelas sama keadaan lo sekarang, tapi gue inget, kalo iel lebih butuh gue yang tegar, bukan air mata gue, dan semenjak saat itu, gue janji buat terus nunjukkin senyum gue ke iel" via membagi kisahnya, berharap aren akan mendapat motivasi.
"Setahu gue, alvin suka banget sama senyum lo, jadi ayo lo harus bangkit, semangatin alvin, kaya lo yang biasanya, yang bisa ngerubah dia jadi kaya sekarang" timpal shila sambil tersenyum.
"Alvin lagi berjuang, lo mau kalo tiba-tiba dia sadar, dia ngedapetin lo udah kaya mayat hidup gini, lo tega ren sama kita, nanti dia kira kita enggak jagain lo lagi" sahut agni.
"Mereka bener ren, aren yang gue kenal, lo yang ceria, selalu senyum, enggak pernah nyerah, dan selalu di banggain sama alvin" ujar oik sambil memeluk aren dan diikuti oleh yang lainnya. Aren menghayati semua kata-kata tadi, perlahan namun pasti dia menghapus air matanya, menarik napasnya dalam-dalam, dan mulai tersenyum, senyum kesukaan alvin.
"Nah ini baru aren pacarnya alvin" celetuk via melihat aren.
"Aduh mbak-mbak ini rumah sakit bukan tempat arisan ya" semua langsung noleh ke arah asal suara.
"Huu, bilang aja lo mau ikutan yo" kata via.
"Kak, nanti sore anterin aren pulang ke rumah ya, mulai besok aren mau sekolah lagi" rio dan semuanya takjub denger kata-kata aren barusan.
"Hah, apaan ren ?"
"Yee, kak rio budek deh, nanti sore anterin aku pulang, aku mau sekolah besok" rio langsung menghampiri aren dan memeluknya.
"Terimakasih Tuhan engkau telah mengembalikan adekku"
"Emang kemarin aren ilang dimana dah kak ?" tanya aren jahil. Rio cuma cengengesan.
"Ehm vi, bisa nemenin gue bentar enggak ?"
"Kemana yo ?"
"Udah iya aja vi" sahut agni nimbrung.
"Iya vi udah ikut aja yuk sama gue, semuanya gue nitip aren dulu ya, jangan sampai dia balik lagi kaya tadi" kata rio sambil sok masang muka galak, tapi jadinya malah lucu, dan bikin semuanya ketawa. Via pasrah mengikuti rio, rio memacu motornya, tidak memperdulikan pertanyaan via, tapi rasa-rasanya via tahu jalan ini menuju kemana.
"Yel, ini gue rio, gue bawa via" rio berkata lirih, bukan seperti rio yang biasanya.
"Gue enggak akan maksa milikin dia kalo emang lo enggak ngerestuin gue dan anggep gue orang yang tepat buat via" sambung rio, via bingung sama kata-katanya rio.
"Gue sayang yel sama via, dan ini pertama kalinya gue ngerasain hal kaya gini ke cewek, cuma dia. Lo pasti tahu kan rasanya ? Tapi dia terlalu sayang sama lo yel, gila enggak sih gue, gue kalah sama cinta abadi lo" rio terus melanjutkan kata-katanya.
"Dan tentang alvin, tolong jangan ajak dia buat nemenin lo. Temen-temen lo, masih belum bener-bener rela kehilangan lo, lo tega apa bikin mereka stres kehilangan alvin juga. Terutama buat aren, aren adek gue yel, ceweknya alvin. Ya, gue tahu, lo tahu. Gue enggak bisa ngelihat adek gue kaya gitu yel, walaupun tadi dia udah senyum, tapi tatapan matanya masih kosong" via tambah bingung, dari soal dirinya, tiba-tiba rio nyambung ke alvin.
"Yo lo kenapa ?" via mencoba bertanya.
"Gue bukan banyak minta yel, gue udah ngerencanain dari lama setelah semua ujian selesai gue bakal kesini ajak via, gue mau minta restu lo, tapi keadaan berjalan tanpa bisa gue kendaliin yel, sekarang gue cuma mau minta, tolong bilangin ke alvin kita semua nunggu dia disini, terutama adek gue. Tolong yel, ini buat kebahagiaan semua orang, bukan cuma gue doang" rio tidak mempedulikan pertanyaan via, tapi via mulai mengerti maksud dari omongan rio dari tadi.
'yel, rio bener, tolong bilang ke alvin. liat deh yel, dia baik banget kan yel, aku mulai nyaman yel dengan adanya dia disamping aku, aku bingung pastiin hati aku, apa aku salah kalo aku mulai menyayanginya' giliran via yang curhat dalam hati ke iel.
'tolong kasih aku tanda atau bantuan, aku bingung yel, apa kamu setuju kalo aku pilih rio...' via mengusap nisan iel lembut, matanya nanar. Tiba-tiba ia menangkap satu sosok, berdiri menghadap ke arahnya, tersenyum seperti biasa, wajahnya cerah, dan dia mengangguk.
"Iel.." desah via pelan nyaris tidak terdengar. Tapi sosok itu seperti melarang via berbicara, dia terus tersenyum, dan mengangguk, via tahu artinya. Via menatap rio lekat-lekat.
"Lo kenapa vi ?"
"Apa lo bisa nembak gue sekarang ?" rio diem mikir, mencerna pertanyaan via, dia takut salah denger atau salah ngartiin kata-kata via.
"Halo mario ? lo masih disini kan ?" tanya via sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Hah..oh..iya vi..yang tadi itu serius ?" tanya rio balik gelagapan.
"Bisa enggak, mumpung gue punya jawaban bagus nih buat lo" rio langsung menyuruh via berdiri, sementara dirinya berlutut dihadapan via.
"Via, gue bukan iel, dan enggak bisa jadi iel, gue rio dan akan selalu jadi rio, gue beda sama dia, persamaan kita cuma satu, mencintai gadis yang sama, dan berharap dapat memiliki dan menjaga keindahannya selama waktu yang ada, bersediakah lo untuk jadi milik gue dan gue jaga ?"
"Aku harap kamu bisa milikin dan jagain aku selamanya" jawab via malu-malu. Rio langsung loncat-loncat.
"Yo, ini kuburan.."
"Oh aku lupa, pantes suasana tegangnya megang banget, Yel, gue bakal jagain via, gue enggak akan sia-siain dia. Balik ke rumah sakit yuk vi"
'aku pulang ya yel, makasih bantuannya' batin via sekali lagi sambil tersenyum dan mengikuti rio menuju motor.

Fearless of Love 2 : Destiny in Love part 10

Semua menatap aren, menunggu aren buat cerita. Terutama via, dia masih enggak percaya sama yang aren bilang, apalagi kalo inget rio yang selalu ngabisin satu piring kue coklat yang dia sajikan.
"Kak rio enggak suka coklat karena papa..." aren mulai cerita semuanya diem menyimak.
"Kata mama, dulu waktu papa mau pergi kak rio nangis pengen ikut papa, terus papa ngasih kak rio coklat dan bilang papa bakal balik buat jemput kak rio kalo coklat itu udah habis, tapi ternyata papa enggak pernah balik lagi, aren aja sama sekali enggak tahu muka papa kaya apa, semenjak saat itu, kak rio anggep coklat sebagai lambang kebohongan, kak rio cuma lihat coklat dari sisi pahitnya aja" semuanya emang udah tahu tentang keluarga rio-aren, alvin terus menggenggam tangan aren, dia tahu aren enggak gitu suka membahas tentang 'papa' yang tidak pernah ia ketahui.
"Tapi dia selalu makan kue coklat di rumah gue sampai abis ?" via tahu aren enggak bohong, tapi logikanya masih belum bisa nerima ini.
"Kak rio ngelakuin itu, karena kakak. Enggak jarang kak rio sampai muntah-muntah sendiri kalo abis pulang dari rumah kakak, tapi kak rio selalu bilang gini 'senyumnya beda ren, kalo kakak makan kuenya, kakak suka senyumnya' selalu bilang gitu" kata aren mengutip kata-kata rio. Via cuma tertegun, enggak nyangka rio berbuat sejauh ini.
Sekembalinya ke kelas, via mendapati rio yang lagi diem sendirian, bahkan sampai akhir sisa pelajaran, rio cuma ngomong seperlunya, enggak kaya biasanya.
Taman belakang rumah rio-aren.
Rio memasukkan kakinya ke dalam kolam renang, sambil memainkan air. Dia masih memikirkan kata-katanya sendiri tadi, apa bener dia sanggup buat terus cukup jadi sahabatnya via, apa dia tahan terus di bawah bayang-bayang iel, apa dia bisa bikin via luluh akan kesabarannya suatu saat nanti. Rio menoleh terkejut ketika lamunannya di hentikan oleh sebuah tepukan lembut di pundaknya.
"Via ?" sapa rio kaget sekaligus seneng.
"Nih buat lo" via menyodorkan sebuah kotak makan, rio sudah bisa menebak isinya pastilah kue coklat, tapi dia tetap membuka kotak itu, dan bingung ngelihat isinya.
"Kenapa ? lo enggak suka coklat kan, makanya gue bikinin fruit cake" kata via yang bisa nebak ekspresi rio.
"Sori vi, tapi gue ehm..tetep bakalan makan kue coklat buatan lo kok" ujar rio, yang enggak tahu kalo aren udah cerita semuanya.
"Walaupun setelah itu lo bakal muntah-muntah ? aduh rio, kenapa lo sampai segininya sih sama gue ?" tanya via gemas sendiri.
"Gue pengen bilang vi, tapi..." rio menggantung kata-katanya, dia memikirkan kata-kata yang tepat, takut kata-katanya menyinggung perasaan via.
"Tapi ?" tanya via penasaran.
"Maaf vi, gue harap lo enggak tersinggung, tapi lo sadar enggak, kalo lo sering banget bending-bandingin gue sama iel ? lo jadi semangat banget, kalo lagi cerita tentang iel, tingkah lakunya dia, dan momen-momen itu terjadi berulang-ulang, setiap lo ngelihat gue makan kue coklat lo, gue enggak tahu saat itu lo lihat gue sebagai iel atau rio, tapi senyuman lo bakal lebih cerah dari biasanya" rio menundukkan kepalanya, dia beneran takut memandang via, semua kegundahannya, baru mengalir gitu aja. Via mencoba meresapi kata-kata rio.
"Harusnya gue yang minta maaf yo, kadang gue ngelakuin itu tanpa sadar"
"Enggak vi, lo jangan ngerasa enggak enak ya sama gue, jangan bikin gue nyesel udah jujur sama lo" rio tersenyum ke via.
"Baru tadi siang lo yakinin ke gue, kalo lo rio dan bukan iel, kalo lo rio dan enggak akan pernah bisa jadi iel, lo juga harus ngeyakinin hati lo yo"
"Iya, gue rio vi" rio mencoel sedikit krim yang ada di kuenya via, dan dengan gerakan kilat, mengoleskannya ke pipi via.
"Rio ! gue bikin capek-capek buat di makan" enggak mau kalah via membalas perlakuan rio dengan menyipratkan air ke rio. Dan mereka pun kejar-kejaran, muterin kolam renang sambil ketawa cekikikan berdua.
Udah lebih dari dua jam, obiet nungguin oik di depan rumahnya. Berkali-kali sudah juga obiet, menelpon hpnya oik, dan semuanya tetap enggak ada hasilnya. Dan penantiannya berakhir, ketika sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah oik. Oik turun, masih pake seragam sekolahnya, tapi dari mukanya yang kelihatan letih, obiet tahu ada yang enggak beres. Dengan segera obiet menghampiri oik.
"Ik, kamu darimana aja ?" obiet langsung menahan tangan oik.
"Biet aku capek, mau istirahat dulu, please" oik melepaskan tangannya dari tangan obiet, obiet pasrah, dia cuma terus memandang oik yang berjalan menghilang memasuki rumahnya.
Semenjak hari itu, oik malah menjadi lebih diam. Dia kaya lagi nungguin sesuatu, sebentar-bantar dia ngecek hpnya, setiap istirahat, dia ke ruang komputer buat ngecek emailnya, tapi setiap ditanya sama temen-temennya dia cuma menggeleng sambil tersenyum. Tapi di balik semua itu, hubungannya dengan obiet mulai berjalan baik, obiet telah kembali menjadi obiet yang seperti biasanya.
"Obiet ikut saya ke ruang guru" semua mata di kelas menatap obiet, obiet yang enggak ngerti juga ada apa, cuma mengangkat bahunya ke arah alvin dan mengikuti pak duta. Ternyata mereka menuju kantor kepala sekolah, obiet yang diem dari tadi akhirnya mutusin buat bertanya.
"Pak, saya kenapa ?"
"Udah kamu ikut aja, ayo masuk" obiet pun masuk ke ruangan kepala sekolah, dia melihat pak toni kepala sekolahnya sedang mengobrol dengan seorang bapak-bapak. Saat melihat obiet masuk, mereka langsung menghentikan obrolan mereka, dan bapak-bapak itu segera menghampiri obiet.
"Obiet, perkenalkan nama saya Hendrawan" kata orang itu sambil menjabat tangan obiet, obiet hanya tersenyum.
"Ada perlu apa ya pak ?" tanya obiet sambil mempersilahkan pak hendrawan buat duduk.
"Ini, kamu baca dulu ini" pak hendrawan menyerahkan sebuah amplop coklat, tanpa ragu obiet langsung membukanya dan membaca beberapa lembar kertas yang ada disana. Sorot matanya berubah menjadi senang sekaligus bingung.
"Ta..tapi saya bahkan enggak jadi ikut seleksinya pak ?"
"Kami tahu, dan ini memang agak menyalahi aturan. Tapi pada saat hari seleksi, ada seorang anak perempuan, memakai seragam datang ke kantor, dan dia membawa sebuah rekaman video, di rekaman itu ada kamu yang sedang memainkan biola, dan di rekaman lain ada kamu dan anak perempuan itu sedang berduet, kamu bermain biola dan dia bernyanyi" obiet mencoba mencerna penjelasan dari pak hendrawan barusan.
"Dia juga menyanyi disana, dan memohon kepada kami tim seleksi untuk memberikan kesempatan kedua kepada kamu untuk mengikuti seleksi susulan. Awalnya ada beberapa orang yang menolak ini, tapi anak perempuan tersebut terus memohon, bahkan rela menunggu kami rapat, dan hari ini saya datang kesini, untuk meyampaikan bahwa kamu secara resmi telah berhasil menjadi salah satu penerima beasiswa ini" obiet takjub mendengar lanjutan penjelasan pak hendrawan.
"Tapi saya bahkan belum mengikuti seleksi, apakah ini adil untuk yang lain ?" obiet tetaplah obiet yang menjujung sportfitas.
"Tadi saya sudah berbicara panjang lebar dengan kepala sekolah kamu, beliau menunjukkan berbagai prestasi musik dan akademis kamu, dan itu semua sudah cukup untuk meloloskan kamu"
"Boleh saya ijin sebentar untuk mengambil biola di ruang musik, kalo cuma dengan cara seperti ini, saya seperti lolos bukan dengan kemampuan saya sendiri" pak hendrawan mengangguk, obiet melirik kepala sekolahnya dan pak duta yang juga melakukan hal yang sama, tanpa pikir panjang obiet langsung berlari untuk mengambil biola di ruang musik dan kembali lagi ke ruang kepala sekolahnya.
Obiet mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan, baru kemarin perban di tangannya di buka dan sudah seminggu dia sama sekali tidak berlatih main biola. Tapi dengan keyakinan dan tekad yang mantap, obiet mulai menggesekkan biolanya, membiarkan nada-nada indah mengalir keluar memenuhi ruangan kepala sekolahnya, semua yang ada di ruangan itu menahan napas kagum. semua bertepuk tangan saat obiet selesai memainkan biolanya.
"Good job, saya seratus persen yakin dengan kemampuan kamu" kata pak hendrawan.
"Terimakasih pak"
"Setelah ini, kamu bisa langsung mengurus administrasi ke kantor kami, dan mulai mengikuti kursus singkat"
"Kapan berangkatnya pak ?"
"Akhir bulan juli, segera setelah menerima hasil un dan kelulusan"
Teet..teet..teeeet. Obiet keluar dengan sumringah tepat ketika bel istirahat berbunyi dilihatnya alvin, rio, riko, cakka, aren, shila, via, dan agni sedang berjalan menghampirinya.
"Lo kenapa biet ?" tanya alvin bingung, dia juga tadi yang langsung ngjakin temen-temennya.
"Nanti gue ceritain, oik mana ?"
"Dia ke ruang komputer" jawab shila.
"Oh oke, kita ketemuan di kantin ya" obiet langsung meninggalkan mereka semua yang masih di bebani oleh sejuta tanda tanya.
Ruang komputer.
Ruangan yang selalu ramai pada jam istirahat, di penuhi oleh anak-anak yang pengen online gratis. Oik duduk dipaling ujung, menatap layar komputernya dengan serius, jarinya mengetuk-ngetukkan telunjukya kemeja.
"Nunggu email siapa sih ik ?"
"Dari tim seleksi"
"Tim seleksi apa ?"
"Tim seleksi beasiswa ke jepang"
"Beasiswa kemana ?" oik menolehkan kepalanya, dan langsung menutup mulutnya sendiri, melihat siapa yang udah duduk di sampingnya. Dia enggak sadar kalo obietlah yang dari tadi nanya-nanya sama dia.
"Udah enggak usah di tunggu lagi, enggak bakal datang juga emailnya" oik menundukkan kepalanya, hatinya kembali di penuhi rasa bersalah.
"Maaf ya biet...."
"Ssstt, capek aku denger kata maaf dari kamu, kamu enggak salah kok, nih baca dulu" obiet menyerahkan amplop coklatnya, oik menerimanya dan langsung mebacanya.
"Makasih ya ik" kata obiet tulus sambil membelai lembut rambut oik, oik yang baru selesai membaca surat tersebut, menatap obiet matanya berkaca-kaca.
"Se..selamat ya biet.."
"Lho, kok kamu nangis ? Kamu masih enggak rela aku ke jepang ?" tanya obiet sambil menghapus air mata oik.
"Enggak, aku seneng banget, ini impian kamu, aku cuma terharu aja" obiet langsung memeluk oik, dia enggak nyangka oik rela bolos buat memperjuangkan cita-cita miliknya, impian yang hampir kandas dan terbuang begitu saja.
"Sekali lagi maksih ya ik" bisik obiet di telinga oik.
"Ini pantes buat kamu"
"Ehem..ehem.."
"Aduh mesranya.."
"Eh ini ruang komputer apa sinetron.." celetuk-celetukkan iseng mulai berkumandang di situ, obiet langsung melepaskan pelukannya ke oik, dan baru sadar kalo mereka udah jadi pusat perhatian.
"Yee ngiri aja, kasih selamat gih ke obiet, dia dapat beasiswa musik ke jepang nih !" teriak oik bangga sambil merangkul obiet, obiet cuma senyum-senyum aja, sambil salam-salaman kaya lebaran sama anak-anak di ruang komputer. Setelah itu, mereka langsung ke kantin, dan obiet serta oik lansung menceritakan semuanya ke teman-teman mereka, dan obiet mebagi kebahagiaannya dengan nraktir semua teman-temannya.
Aren nganterin alvin mendaftar ke sebuah universitas ternama di Jakarta. Aren duduk di bawah pohon, sambil ngeliatin alvin yang lagi sibuk ngurusin administrasi.
"Udah kak ?" tanya aren waktu alvin mengahampiri dirinya.
"Udah kok, besok aku tinggak ikut ujian masuknya, ayo pulang" jelas alvin sambil ngegandeng aren.
"Kenapa kakak enggak nurut sama papa kakak buat sekolah di luar negeri aja ?"
"Enggak ah enakan disini, disana enggak ada yang manja kaya kamu" kata alvin jahil.
"Perasaan manjaan kakak deh daripada aku"
"Haha, masa sih, aku emang pengen disini, lagian nanti kamu kaya oik lagi, pakai ngembek dulu kalo aku sekolah di luar negeri"
"Kalo aku sih, apapun yang terbaik buat kakak, ya aku rela"
"Kalo gitu aku yang enggak rela ninggalin kamu" kata alvin sambil mengecup pipi aren, wajah aren langsung memerah sangking malunya, apalagi alvin melakukan ini di tempat umum.
"Kakak.."
"Haha, enggak usah merah gitu dong..Abis ini aku sibuk belajar nih ren, nanti selesai aku ujian kita jalan-jalan ya, kita abisin waktu berdua" seperti biasa alvin ngacak-ngacak rambutnya aren. Aren cuma nyengir-nyengir aja, menikmati waktunya dengan alvin.